Tag Archives: anak-anak

1 MATLAMAT DAN CITA-CITA

SEKOLAH MENENGAH ISLAM ZADUT TAQWA

Bersatu dalam Islam ialah bersatu dalam menuju matlamat yang sama.

Jalannya luas dan banyak. Selagi dalam syariat maka ia dibenarkan. Sepertilah mazhab-mazhab yang membantu menyelesaikan masalah umat.

Yang rasa susah bila tak dapat terima dan berlapang dada dengan kelebihan atau kekurangan yang lain. Lagi merosakkan, jika tidak mengikut cara dan fahamannya, itu salah dan silap. Caranya dan fahamannya sahaja yang betul.

SEMBAHYANG ITU TIANG AGAMA

Matlamat kita ialah negeri Akhirat, dan kita diminta persiapkan bekalan. Dan sebaik-baik bekalan ialah Taqwa. Jika bekalan ini betul dan matlamatnya sama, tiada masalah di mana pun kita berada…

Seorang Sahabat, Pelayan RSAW Dan juga Perawi Hadith!

#sang pelayan nabi saw diwaktu suka dan duka#

ANAS bin Malik RA masuk Islam saat usiannya belum genap 10 tahun. Dia terus bersama Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassallam dan mengabdi kepada beliau menghadap ke hadirat Allah Subhanahu Wata’ala. Saat itu usia Anas bin Malik RA 21 tahun.

Nama lengkap beliau Abu Hamzah atau Abu Tsumamah Anas bin Malik bin Nadlar Al-Khazraji Al-Anshari, berasal dari Bani Najjar. Ibunya bernama Ummu Salma Sahlah binti Malik bin Khalid, isteri kepada Malik bin Nadlar. Malik pergi ke Negeri Syam dan meninggal dunia disana. Setelah itu Ummu Salma dipinang oleh Abu Thalhah Zaid bin Sahal. Dia hendak menikah dengan Abu Thalhah dengan syarat  ia mahu masuk Islam.

Ummu Salma menjadikan keislaman Abu Thalhah sebagai mas kahwinnya. Pernikahan itu terjadi antara Bai’ah Aqabah pertama dan kedua. Dan Abu Thalhah turut serta dalam Bai’ah Aqabah kedua.

Saudara kandungnya, Al-Bara’ bin Malik adalah salah satu pahlawan Islam yang gagah berani dan gugur dalam Perang Tustur. Anas bin Malik RA lahir pada tahun ke-3 kenabian atau 10 tahun sebelum hijrah. Dia masuk Islam melalui ibunya ketika Nabi SAW hijrah ke Madinah. Jadi, Anas bin Malik RA termasuk Sahabat Nabi yang sangat muda. Kemudian Anas bin Malik RA dikurnia anak-anak dan keturunannya yang banyak. Hal itu dia peroleh berkat do’a Rasulullah SAW untuknya.

“Yaa Allah, berikanlah dia harta dan anak yang banyak dan berikanlah keberkatan kepadanya.”  Maka Anas bin Malik RA pun dikurnia harta yang banyak dan melimpah.

Dia juga dikurnia anak-anak dan cucu-cucu yang ramai. Jumlahnya hampir 100 orang. Anak-anaknya antaranya bernama Abu Bakar, Ubaidillah, Nadlar dan Musa

BERGURU KEPADA RASULULLAH SAW

Setelah masuk Islam Anas bin Malik RA terus menantikan hijrah Nabi SAW ke Madinah. Maka tatkala beliau tiba di Madinah kedua orang tuanya terus membawa Anas bin Malik kepada Nabi SAW agar diterima menjadi pelayan beliau.

Rasulullah SAW menerima kehadiran Anas bin Malik RA sebagai pelayannya. Rasulullah SAW mengasuh Anas bin Malik RA dan memeperlakukannya dengan baik. Beliau bahkan sering memanggilnya:  “Nak !” sebagaimana diriwayatkan oleh At- Tirmidzi dari Anas bin Malik RA bahwasannya Rasulullah SAW pernah bersabda kepadannya: “Nak! Kalau kamu boleh memasuki waktu pagi dan petang dengan hati yang bersih dari rasa hasad dengki kepada seseorang, lakukanlah.” Kemudian beliau bersabda “Nak! Itu adalah sebahagian dari Sunnahku. Barangsiapa yang menghidupkan Sunnahku bererti dia mencintaiku. Dan barangsiapa yang mencintaiku dia pasti akan bersamaku di Surga.”

Dan Nabi SAW memperlakukan Anas bin Malik RA dengan kelakuan yang sangat lembut. Bahkan Anas bin Malik RA pernah mengatakan: “Aku melayani Rasulullah SAW selama 10 tahun. Demi Allah , beliau sama sekali tidak pernah mengatakan: ‘Ah! Kepadaku. Beliau juga tidak pernah bertanya kepadaku: “Mengapa kamu berbuat begitu? Atau mengapa kamu berbuat begitu? ”

Anas bin Malik RA mendapatkan anugerah yang sangat besar dari Rasulullah SAW. Yaitu bahwa beliau berjanji akan memberikan syafa’at kepadannya. Anas bin Malik SAW mengatakan: “Aku pernah meminta kepada Nabi SAW agar beliau berkenan memberiku syafa’at pada Hari Kiamat kelak. Lalu beliau bersabda: “Ya aku akan melakukannya”. Kemudian aku bertanya: ‘Ya Rasulullah, di mana aku harus mencarimu? Beliau menjawab: ‘Pertama carilah aku di atas titian sirat(jambatan )’. ‘Jikalau aku tidak menemukanmu di atas shirath?’. Beliau menjawab: ‘Carilah aku di mizan (timbangan amal)’. Jikalau aku tidak menemukanmu  di mizan? Tanyaku lagi. Beliau menjawab: ‘Carilah aku di haudl (telaga). Karena aku tidak akan tidak ada dari tiga tempat itu.

MERIWAYATKAN HADITH

Anas bin Malik RA dengan Nabi SAW semenjak beliau hijrah ke Madinah sampai menghadap Allah SAW, memberinya kesempatan yang luas untuk meriwayatkan hadits sebanyak-banyaknya dari Nabi SAW. Jumlah Hadits yang diriwayatkan oleh para perawi dari Anas bin Malik RA mencapai 2286 buah Hadits. Dan tidak ada sahabat lain yang jumlah periwayatkan Haditsnya melebihi Anas bin Malik RA selain Abu Hurairah RA dan Abdullah bin Umar RA.

Anas bin Malik RA menjaga amanah ini dengan baik dan menyampaikannya seperti apa yang didengarnya. Dan selepas peninggalan Nabi SAW, Anas bin Malik RA pun menjadi guru besar bagi imam-imam besar, seperti Hasan Al-Bashri, Ibnu Sirin, Said bin Jubair, Qatadah, Az-Zuhri dan Umar bin Abdul Aziz. Namun apa yang diriwayatkan oleh para perawi itu tidak semuanya di dengar langsung oleh Anas bin Malik RA dari Nabi SAW.

Dengan kata lain sebahagian besar berasal dari mulut Nabi SAW ke telinga Anas bin Malik RA , dan sisanya dia dengar dari Abu Bakar , Umar bin Khattab, Ubadah bin Shamit, Muadz bin Jabal, Abdullah bin Mas’ud atau Abu Hurairah RA yang mendengar langsung dari Nabi SAW. Al-Hakim menceritakan bahwa Anas bin Malik RA pernah menyampaikan Hadits dari Rasulullah SAW. Kemudian ada yang bertanya: “Engkau mendengarnya terus dari Rasulullah SAW? ” Anas bin Malik RA menjawab : Demi Allah , tidak semua hadits yang kami sampaikan kepada kalian itu kami dengar langsung dari Rasulullah SAW satu sama lain, dan kami tidak saling curiga-mencurigai. Kesemua jumlah hadits yang dihafalnya tidaklah sedikit, dia sangat berhati-hati dan tidak gopoh dalam menyampaikan riwayat supaya dapat ia terhindar dari kesalahan. Dengan kata lain dia tidak menceritakan sesuatu yang dia yakini kebenarannya dan hafalannya. Anas bin Malik RA pernah berkata: “ Sekiranya aku pernah dengar dari Rasulullah SAW. Beliau pernah bersabda: “Barangsiapa yang berdusta atas namaku secara sengaja, hendaklah ia menempati tempat duduknya di Neraka”.

Rasulullah SAW pernah melarang para sahabat mencatat Hadits beliau agar tidak tercampur dengan Al-Qur’an . Tetapi setelah penulisan Al-Qur’an sempurna dan wahyu telah berhenti sepeninggal Rasulullah SAW, maka tidak ada lagi alasan untuk melarang penulisan Hadits. Dan Anas bin Malik RA adalah salah satu orang yang mencatat hadits Nabi SAW. Dia pernah berkata : “Ikatlah ilmu dengan tulisan ”

SEDIKIT KISAH MENGENAI ANAS BIN MALIK

Keistimewaan terpenting yang dimiliki oleh sahabat Nabi SAW ini ialah ketekunannya dalam menyampaikan hadits-hadits Nabi kepada umat islam. Itulah kesibukan yang paling utamanya sampai akhir hayatnya. Abu Bakar RA pernah menugaskan Anas bin Malik memungut Zakat di Bahrain atas usulan Umar bin Khathab . Karena Umar bin Khathab RA pernah berkata: “Kirimilah dia (Anas bin Malik) karena dia benar-benar pandai menulis.” Dan tatkala Abu Musa Al-Asy’ari memegang jawatan sebagai Gubenor Bashrah, Anas bin Malik dijadikan sebagai orang dekatnya. Abu Musa bahkan menyuruh Anas bin Malik untuk mewakilinya menghadap kepada Umar bin Khathab RA . Dan dia juga menugaskan Anas bin Malik RA memimpin kawasan Persia. Kemudian tatkala Abdullah bin Zubair dibai’ah menjadi Khalifah, Anas bin Malik RA ditunjuknya menjadi Gubenor Bashrah selama beberapa waktu.

Kesibukan Anas bin Malik dalam menekuni Hadits Nabi tidak menjadi penghalang baginya untuk berjuang di medan jihad. Anas bin Malik terlibat dalam Perang Badar dan Perang Uhud.

Ketika itu Anas bin Malik bertugas melayani keperluan Nabi SAW . Anas bin Malik terlibat dalam Perang Khandaq sebagai seorang pejuang yang mampu mematahkan leher orang-orang musyrik dan menjatuhkan mereka.

Setelah Nabi wafat, Anas bin Malik ikut serta dalam perang melawan orang-orang murtad dan mendapatkan kemenangan yang gemilang . Anas bin Malik juga pernah terjun ke medan Perang Qadisiyah . Kebetulan Anas bin Malik mahir memanah. Setelah Perang Tustur yang berakhir dengan kemenangan yang sangat gemilang . Abu Musa Al-Asy’ari, panglima perang tersebut menugaskan Anas bin Malik membawa para tawanan dan rampasan perang kepada Amirul Mukminin, Umar bin Khathab.

Anas bin Malik datang kepada Umar bin Khathab dengan membawa pimpinan Tustur, Hurmuzan.

Di masa akhir hidupnya,  Anas bin Malik  tinggal di salah satu sudut kota Bashsrah hingga usianya lebih dari 100 tahun. Di sana Anas bin Malik jatuh sakit dan terus berkata kepada orang-orang yang ada disekitarnya: “Tuntunlah aku membaca Laa ilaha illallah.” Anas bin Malik tidak berhenti membaca kalimat tauhid itu sampai menghembuskan nafas terakhirnya. Peristiwa itu terjadi pada tahun 93 Hijriyah. Ada yang menyatakan bahwa Anas bin Malik adalah Sahabat Nabi yang paling akhir meninggal dunia. Namun ada pendapat lain yang menyatakan bahwa setelah Anas bin Malik masih ada satu orang sahabat Nabi yang hidup, yaitu Abu Thufail Amir bin Watsilah Al-Laitasi yang wafat pada tahun 100 Hijriyah.*

DENGAN KITA BERCERITA DAN MEMBACA TENTANG PARA SAHABAT NABI SAW, SEMOGA KITA DAPAT MENCONTOHI MEREKA, YANG MANA DIAKHIR ZAMAN INI PENUH DENGAN SEGALA MACAM FITNAH….

ANAK-ANAK, CAHAYA MATA, HARTA YANG BOLEH MENYELAMATKAN KITA DI AKHIRAT

Anak-anak mengaji Al Quran sebelum berbuka

Kebanyakan dari kita masing-masingnya ada mempunyai anak dan mana-mana yang belum mempunyai anak di suatu masa kelak dengan izin Allah SWT, akan pula mempunyai anak. Kerana itu ilmu pendidikan anak-anak ini amatlah amat penting, supaya kita dapat mengetahui cara-cara bagaimana kita hendak mendidik anak-anak kita. Di dalam sepotong hadis Rasulullah SAW ada bersabda yang maksudnya: “Apabila seseorang kanak-kanak yang telah berumur 7 tahun hendaklah kamu perintah ke atasnya akan sembahyang. Manakala kanak-kanak itu telah sampai umur 10 tahun, apabila dia tidak mahu sembahyang, hendaklah kamu pukul akan dia.”

Berdasarkan hadis ini dan juga apa yang telah diceritakan di dalam kitab-kitab, mula-mula sekali kita mendidik akan anak-anak kita ialah ketika berumur 7 tahun paling kurang. Tetapi yang sebaik-baiknya waktu kita mendidik anak-anak kita ialah dari awal-awal lagi. Di dalam hadis di atas pendidikan awal-awal kita lakukan kepada anak-anak kita ialah menyuruh dia bersembahyang dan tidak perkara-perkara yang lain. Ini adalah kerana di antara syariat lahir yang terpokok sekali ialah sembahyang. Ertinya, Rasulullah SAW menyentuh pokok di dalam pendidikan anak-anak kerana apabila persoalan pokok ini dapat dilakukan, perkara-perkara yang lain akan mengikut dengan sendiri.

Jadi, Rasulullah SAW telah menceritakan kepada kita bahawa mendidik anak-anak itu hendaklah bermula daripada umurnya 7 tahun, paling tidak. Justeru itu, kita ingin menghuraikan cara-cara bagaimana kita hendak melakukan pendidikan itu agar anak-anak kita memiliki akhlak yang mulia itu adalah perkara yang paling penting sekali. Maksudnya, selepas Iman dan Islam dan perkara-perkara yang asasi di dalam Islam, mendidik anaklah yang mesti kita utamakan. Yang demikian, ia menjadi wajib ain bagi setiap orang.

Kalau kanak-kanak itu masih ada ibu bapanya, maka bertanggungjawablah pada kedua ibu bapanya. Kalau ibu bapa kanak-kanak itu tidak ada dan sekiranya yang menjadi penjaga kanak- kanak itu abangnya, maka pada abangnyalah tanggungjawab itu terpikul. Begitu juga, kalau yang menjadi penjaga kanak-kanak itu bapa saudaranya, maka bapa saudaranyalah yang bertanggungjawab. Dan kalau kanak-kanak itu menjadi anak angkat, maka bapa angkatnyalah yang bertanggungjawab.

Begitu pentingnya syariat Islam meletakkan tanggungjawab mendidik anak-anak kepada kita. la adalah menjadi wajib ain bagi kita iaitu selepas mengetahui rukun Iman dan rukun Islam serta perkara-perkara yang menjadi asasi dalam ajaran Islam seperti bab bersuci dan sebagainya, maka adalah mustahak kita mengetahui cara-cara bagaimana hendak mendidik anak-anak mengikut yang dikehendaki oleh ajaran Islam supaya anak-anak kita itu menjadi orang mukmin yang berakhlak mulia.

Mengapakah ajaran Islam telah meletakkan mendidik anak-anak sebagai perkara yang begitu penting? Ini adalah kerana anak-anak adalah amanah Tuhan kepada dua ibu bapanya. Dengan kata-kata yang lain, seorang anak itu adalah nikmat Allah yang telah Allah serahkan kepada kita untuk kita jaga, kita pelihara dan kita asuh dengan sebaik-baiknya mengikut ajaran Al Quran dan sunnah supaya dia menjadi orang yang beribadah kepada Allah SWT. Maka oleh kerana anak-anak itu adalah amanah Allah kepada ibu bapanya atau kepada sesiapa saja yang menjadi penjaga kepada anak-anak itu, di akhirat kelak, Allah akan tanya dia bagaimana dia memelihara dan mendidik anak-anak itu. Rasulullah SAW pernah bersabda maksudnya: “Setiap orang kamu adalah penggembala (pemimpin) dan setiap penggembala itu akan ditanya tentang apa yang digembalanya (dipimpinnya).”

Ertinya, di akhirat kelak selepas Allah tanya tentang diri kita, Allah akan tanya pula tentang diri anak-anak kita yang mana termasuklah isteri kita. Bagaimana kita mendidik mereka. Adakah kita mendidik mereka secara yang dikehendaki oleh Al Quran dan sunnah? Adakah kita suruh mereka menyembah Allah? Adakah kita mendidik mereka agar mereka memiliki akhlak yang baik? Adakah kita mendidik mereka agar mereka mencintai akhirat? Semua ini akan Allah tanya nanti. Dan sebab itulah Allah berfirman, “Peliharalah diri kamu dan ahli keluarga kamu dari api neraka.” Jadi kenalah kita mendidik diri kita dan kemudian mendidik ahli-ahli keluarga kita mengikut yang dikehendaki oleh Allah kerana di akhirat nanti kita akan ditanya.

Rasulullah SAW pernah bersabda maksudnya:”Seorang kanak-kanak itu dilahirkan suci bersih. Dua ibu bapanyalah yang akan menjadikannya Yahudi atau Majusi atau Nasrani.” Mengikut keterangan hadis ini, kanak-kanak yang dilahirkan itu adalah suci murni. Terpulanglah kepada kedua ibu bapanya atau siapa-siapa yang menjadi penjaganya sama ada abangnya atau bapa saudaranya, datuknya atau bapa angkatnya untuk mencorakkan anak itu untuk menjadi Yahudikah atau Majusikah atau Nasranikah atau mulhid iaitu orang yang tidak beragama. Maka itu, bersih dan murninya anak semasa lahir itu adalah seperti bersihnya kain putih. Kalau kain yang putih itu menjadi hitam selepas itu, maka kedua ibu bapanyalah yang menghitamkannya. Begitu juga kalau kain itu di kemudian harinya menjadi hijau atau berbelang-belang dan sebagainya, ibu bapanyalah atau penjaganyalah yang bertanggungjawab menjadikan anak-anak itu berwarna demikian.

Sebab itulah semasa kanak-kanak itu sebersih kain putih, hendaklah kita jaga sungguh-sungguh supaya ia tidak tercalit oleh sebarang warna lain. Kita mesti pelihara supaya sampai ke akhirnya dia putih. Iaitu dari lahirnya dia putih sehingga dia berdepan dengan Allah pun mesti putih juga. Jangan pula, dari Allah kepada kita dia putih tetapi apabila berdepan dengan Allah nanti dia hitam atau berbelang-belang atau tercalit dengan bermacam-macam warna. Kalau demikian, kita sudah tidak menjaga hak Allah dengan betul, kita sudah mensia-siakan nikmat Allah atau kita telah rosakkan amanah Allah atau dengan kata-kata lain kita telah khianat kepada Allah SWT.

Jadi, ibu dan ayah atau siapa-siapa saja yang menjadi penjaga kepada anak-anak adalah mempunyai tanggungjawab yang amat berat. Lebih-lebih lagi kalau seseorang itu mempunyai anak yang ramai. Kalau sekiranya dia tidak boleh didik dan pelihara anaknya itu secara yang dikehendaki oleh Allah dan Rasul, maka beratlah keadaannya ketika di akhirat nanti. Apabila ditanya oleh Allah tentang anak-anaknya serta isterinya, dia tidak boleh lepas. Sebab itulah dalam soal ini, apabila Allah tanya seseorang itu tentang dirinya dahulu, banyak orang boleh lepas. Ertinya dia boleh masuk syurga. Tetapi apabila ditanya tentang anak isterinya, ramai yang tidak lepas. Akibatnya, dia tidak jadi masuk syurga kerana Allah tarik balik. Dan dia dimasukkan ke dalam neraka. Sebab hendaklah kita ingat sungguh-sungguh bahawa apabila kita sudah ada mempunyai anak, jangan kita bermudah-mudah tanggungjawab mendidik dan menjaganya.

Anak-anak yang telah Allah berikan kepada kita itu adalah sebahagian dari diri kita. la adalah satu juzuk daripada diri kita. Atau dia adalah sebahagian daripada darah daging kita. Jadi, anak- anak kita itulah yang menjadi penyambung hidup kita di masa hadapan. Yang demikian, orang yang hendak menyambung hidup kita ini hendaklah kita jaga baik-baik supaya kalau kita boleh berbuat baik serta boleh berbakti kepada Allah SWT, dia juga boleh berbuat baik dan boleh berbakti kepada Allah SWT. Kalau semasa hayat kita boleh beribadah kepada Allah, maka anak-anak kita boleh berjuang dan berjihad, anak-anak kita juga boleh menyambung perjuangan dan jihad kita. Dan kalau kita sedikit sebanyak ada ilmu pengetahuan, mudah-mudahan anak-anak kita juga boleh menyambung ilmu pengetahuan kita itu.

Di sini dapatlah kita fahamkan juga bahawa anak-anak kita itu adalah generasi kita di masa hadapan. Oleh yang demikian, masa depan generasi kita sebagai umat Islam adalah ditentukan oleh corak kita mendidik di masa sekarang. Bagaimana corak dan suasana masyarakat Islam di masa akan datang adalah bergantung kepada corak dan suasana kita mendidik anak-anak kita sekarang. Sepertimana corak dan suasana masyarakat Islam kita di masa sekarang atau di zaman kita ini, ia sebenarnya adalah mengikut corak dan suasana pendidikan yang telah dilakukan oleh orang-orang tua kita di zaman dahulu. Bagaimana orang-orang tua kita dahulu telah mendidik kita, lihatlah bagaimana keadaan dan suasana masyarakat kita di hari ini. Jadi, kalau kita hendak tahu bagaimana generasi kita di masa akan datang, dapatlah kita nilai daripada cara kita mendidik anak-anak kita di masa sekarang ini.

Sehubungan dengan ini, sekarang ini tentulah kita sudah dapat mengagak bagaimana umat Islam kita di masa akan datang atau bagaimana corak generasi kita di masa depan. Kita tentu telah dapat menilai bagaimana bentuk umat ini di masa hadapan kerana selama ini kita telah membentuk mereka melalui didikan dan asuhan yang telah kita lakukan.

Begitulah nilainya anak-anak kepada kita. Mereka adalah menjadi penyambung hidup kita, penyambung ibadah dan amal bakti kita, penyambung perjuangan dan jihad kita serta merekalah penyambung generasi kita di masa hadapan. Walhasil, anak-anak itu adalah harta yang paling berharga kepada kita selepas Iman dan Islam serta perkara-perkara yang asasi di dalam Islam. Dia boleh menguntungkan kita di dunia dan boleh menjadi jariah kita di akhirat. Sebab itulah anak-anak itu adalah dikatakan “cahaya mata” kita. Mengapakah dikatakan anak-anak itu sebagai “cahaya mata”? Ini adalah kerana mata yang melihat mereka itu menusuk sampai ke hati. Ketenangan mata yang melihat anak-anak itu membawa kepada ketenangan hati.

Jadi, anak-anak kita itu boleh menyejuk dan mententeramkan hati kita. Dia boleh menjadi “cahaya mata” kita yang “menghiburkan hati kita dengan syarat dia dapat kita didik betul-betul mengikut yang dikehendaki oleh Allah SWT. Ertinya, kalau anak-anak itu dapat kita didik secara Islam, di dunia lagi, dia dapat menenangkan hati kita. Di dunia lagi kita sudah seronok dibuatnya. Manakala di akhirat nanti, anak-anak itu jadi jariah. Bermakna, setiap kebajikan yang dibuat oleh anak-anak itu, kita mendapat pahalanya sama.

Rasulullah SAW bersabda maksudnya: “Orang yang menunjukkan kebaikan itu, dia mendapat pahala sepertimana orang yang membuat kebaikan itu.”

Oleh itu anak-anak yang dapat melakukan kebaikan, anak-anak yang dapat berlaku taat kepada Allah, anak-anak yang menjadi orang bertaqwa dan orang yang beramal oleh hasil daripada didikan kita, di akhirat nanti dia menjadi jariah kepada kita. Setiap apa saja kebaikan yang dilakukan oleh anak-anak kita itu, mendapat pahala darinya.

Nisbah kalau di dunia ini kita telah dapat mendidik anak-anak kita hingga dia dapat berjawatan baik yang mana hasil dari didikan itu, tiap-tiap bulan dia mengirim kita belanja sebanyak $50 atau $100 dan sebagainya. Begitulah juga di akhirat, kerana kita telah dapat mendidik dia menjadi orang yang baik dan taat kepada Allah, maka setiap kebaikan yang dilakukannya, pahalanya datang kepada kita seperti kiriman register di dunia dahulu.

Sebab itulah, anak-anak itu boleh memberi keuntungan kepada kita di dunia dan dia menjadi jariah kita di akhirat. Di dunia dia boleh menyejukkan hati kita kerana akhlaknya begitu baik. Dia menyenangkan hati kita, menolong kita serta membantu kita sama ada berupa tenaganya ataupun wang ringgitnya. Manakala di akhirat nanti setelah kita mati, dia terus menerus membantu dan menolong kita dengan mengirimkan pahala dari setiap amal kebaikan yang dilakukannya.

Dalam hal ini, di dalam kitab-kitab ada diceritakan berbagai-bagai peristiwa mimpi oleh orang-orang soleh. Walaupun peristiwa-peristiwa mimpi tidak boleh kita jadikan hukum, namun kita harus ingat bahawa peristiwa-peristiwa mimpi itu adalah dari orang-orang soleh dan mimpi orang-orang soleh selalunya benar terutamanya orang-orang soleh di akhir zaman. Kerana di akhir zaman, nabi dan rasul sudah tidak ada. Maka tinggallah orang-orang soleh untuk memberi pimpinan dan panduan kepada umat. Kerana itu, mimpi-mimpi mereka selalunya benar. Bahkan ada satu keterangan hadis yang mengatakan bahawa mimpi orang mukmin itu adalah satu perempat puluh tujuh daripada kenabian. Manakala dalam satu keterangan hadis yang lain pula mengatakan bahawa mimpi orang mukmin itu adalah satu perempat puluh enam daripada kenabian. Inilah keistimewaan yang diberi oleh Allah kepada orang-orang mukmin di akhir zaman yang bilangan mereka itu adalah amat kecil. Banyak daripada mimpi-mimpi mereka itu adalah benar sebagai menghibur mereka. Jadi, di dalam kitab-kitab ada diterangkan cerita-cerita dari mimpi orang soleh ini. Dan di dalam satu cerita ada diriwayatkan satu mimpi dari satu orang soleh. Ceritanya, dia bermimpi berjalan di atas suatu tanah perkuburan. Dia lihat semua orang yang di dalam kubur itu masing-masing keluar mengais-ngais sampah seolah-olah mencari-cari satu barang yang hilang, macam ayam mengais-ngais tanah untuk mencari makanan. Dan di kubur itu suasananya gelap gelita. Dan di dalam suasana yang gelap gelita itulah masing-masing tadi mencari-cari.

Tetapi orang soleh itu terlihat ada satu kubur yang suasananya terang benderang bercahaya-cahaya. Di dalamnya dia nampak ada satu orang sedang duduk berehat-rehat di atas tempat yang indah. Bila diamatinya orang itu, rupanya dia adalah seorang kenalannya yang sudah lama meninggal dunia. Orang soleh itu pun menghampirinya dan berkata kepada kenalannya itu, “Wahai saudara, mengapakah saya itu masih hidup dan bekerja di pasar sekian-sekian.”

Kemudian orang soleh itu pun terjaga dari tidurnya. Dia pun memikir-mikir tentang mimpinya lantas dia mahu membuktikannya untuk melihat sendiri anak yang disebut oleh taulannya yang sudah mati itu. Dia pun pergilah ke pasar tempat yang diceritakan oleh taulannya yang sudah mati dalam mimpinya semalam. Sampai di sana dia pun bertanyalah kepada orang ramai tentang nama polan-polan. Orang-orang pun menunjukkan kepadanya akan orang tersebut. Dia pun pergi menemui orang itu dan didapatinya benarlah yang dia sedang menjual ikan dan sayur di pasar seperti yang diceritakan oleh ayahnya di dalam mimpi semalam. Lantas orang soleh itu pun berkata: “Wahai orang muda, malam tadi saya bermimpi bertemu ayahmu. Kedudukannya begitu istimewa dan dia sedang berehat-rehat dan bersenang-senang.“ Katanya, dia mendapat keistimewaan itu kerana anaknya.

Jika kita tidak mendidik mereka dengan cara yang betul, mereka sebaliknya akan menjadi tuan-tuan besar di rumah dan akan memperhambakan ibu dan ayahnya. Hal ini memang banyak sekali berlaku di akhir zaman ini, anak-anak menjadi tuan-tuan besar manakala ibu dan ayahnya menjadi hamba-hambanya. Salahnya adalah terletak kepada ibu dan ayah itu sendiri kerana mereka mendidik anak-anak untuk nilai ekonomi semata-mata. Anak-anak itu mereka dorong sepenuh-penuhnya untuk belajar ilmu pengetahuan duniawi sahaja hingga dapat kelulusan tinggi tetapi sedikit pun tidak dididik secara Islam. Tidak sedikit pun anak-anak itu dididik secara Al Quran dan sunnah.

Anak-anak itu boleh berjaya dalam pelajarannya hingga dapat degri dan dapat berjawatan besar, bergaji besar, berkereta besar dan berumah besar. Seterusnya pandai pula cakap besar. Kalau di rumah, dia boleh perintah ibu orang-orang kita pun ada berkata, kanak-kanak itu ibarat kain putih yang suci bersih. Sehubungan demikian, waktu kanak-kanak ibarat kain putih itulah, dia mesti kita jaga supaya kain putih itu tidak tercalit sebarang warna lain. Jangan sampai kain yang putih itu bertukar warna. Biarlah dari awal lagi dia ibarat kain putih sampailah bila dia berhadapan dengan Allah pun tetap ibarat kain putih. Jangan sampai kain putih yang Allah berikan kepada kita tetapi kain putih itu telah bertukar warna bila kita kembalikan kepada Allah nanti. Allah akan murka dan kita akan dihukum dengan neraka. Dan kata Imam Ghazali lagi, waktu kanak-kanak ibarat kain putih itu, dia boleh menerima sebarang lukisan. Dia boleh menerima apa saja yang kita lukis padanya. Dan dia juga boleh cenderung kepada apa saja yang kita lenturkan kepadanya. Ke mana saja yang kita mahu, dia akan condong ke arah itu. Dan kalau kita pertahankan tegaknya yang menyebabkan anak-anak itu berpegang kepada satu-satu agama di kemudian harinya adalah kerana kita sebagai ibu dan ayahnya yang mendorongnya.

Ertinya, dia boleh berfaham Yahudi, kalau tidak di sudut akidahnya boleh jadi di sudut syariatnya. Begitu juga dia boleh berfaham Nasrani, kalau tidak akidahnya boleh jadi syariatnya. Dan seterusnya, dia boleh berfaham Majusi, kalau tidak di segi akidahnya boleh jadi di segi syariatnya. Dan dia juga boleh berfaham Mulhid iaitu tidak bertuhan dan tidak beragama. Dia juga boleh berfahaman komunis, faham sosialis, faham nasionalis atau sebarang apa saja fahmaan kalau kita dorong ia ke arah fahaman-fahaman itu.

Kalau begitu, semasa anak-anak kita itu ibarat kain putih, hendaklah kita didik dia sungguh-sungguh. Hendaklah kita hantar dia ke sekolah-sekolah yang ada pendidikan dan pengajian Al Quran dan sunnah dan didikannya juga adalah didikan Al Quran dan sunnah. Jangan kita hantar dia ke sekolah-sekolah yang tidak berpendidikan Al Quran dan sunnah serta yang pengajiannya bukan Al Quran dan sunnah. Jangan kita hantar dia ke tempat-tempat yang berpendidikan sekular semata-mata, tidak berpendidikan secara keakhiratan.

Kemudian kata Imam Ghazali lagi, jika anak-anak itu dibiasakan membuat baik dan diajar dengan kebiasaan membuat baik, dia akan membesar di atas kebaikan itu. Dan dia akan tumbuh dengan subur di atas kebaikan itu. Akhirnya, dia akan mendapat kebahagiaan di dunia dan kebahagiaan di akhirat. Dia mendapat kebahagiaan di dunia kerana ibu dan ayahnya telah mendidik dia kepada agama Islam yakni kepada kebaikan. Adapun hati orang yang beragama, dia sentiasa bahagia walaupun berhadapan dengan ujian-ujian. Inilah yang dimaksudkan dalam doa yang kita pohonkan kepada Allah SWT: “Ya Tuhan kami, kurniakan kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat.”

Jadi, kebaikan di dunia yang dikurniakan oleh Allah SWT ialah hatinya cenderung kepada kebaikan kerana dia dididik kepada agama Islam dan natijahnya hatinya sentiasa tenang dan bahagia walaupun dia ditimpa dengan berbagai-bagai ujian. Kebaikan di dunia atau kebahagiaan di dunia bukan bererti mempunyai wang yang banyak, mempunyai kereta besar, rumah besar, gaji besar dan sebagainya. Yang dikatakan bahagia itu hati seseorang itu yang bahagia dan hatinya yang sentiasa tenang dan tenteram. Hati seseorang itu tidak akan bahagia kalau dia tidak dididik secara Islam.

Dari itu, kata Imam Ghazali, kanak- kanak yang dididik oleh ibu dan ayahnya dengan membuat kebajikan-kebajikan di dalam ajaran Islam, dia akan tumbuh dengan subur di atas kebaikan itu. Kanak-kanak yang seperti itu, di dunia lagi sudah mendapat kebahagiaan. Kerana, agama Islam yang diterimanya daripada kecil hinggalah besar, itulah yang menyebabkan dia bahagia. Di samping bahagia di dunia dia juga ada jaminan untuk mendapat kebahagiaan di akhirat iaitu duduk menikmati kebahagiaan yang kekal abadi di dalam syurga Allah. Semua ini hanya tercapai apabila kanak-kanak itu dididik secara Islam.

Orang yang tidak dididik secara Islam tidak akan mencapai kebahagiaan di dunia walaupun wangnya banyak, rumahnya besar, keretanya besar dan selalu pula cakap besar. Pengalaman kita telah menunjukkan betapa orang-orang yang demikian membunuh dirinya sendiri. Kemudian, kanak-kanak yang telah dididik membuat kebaikan itu hingga dia boleh menyembah Allah, dia boleh berpuasa, dia boleh bersembahyang, dia boleh bersedekah dan berkorban, dia boleh berjuang dan berjihad, dia boleh berkasih sayang dan lain-lainnya, hakikatnya Allahlah yang telah memberikan dia kebaikan itu. Tetapi yang menyebabkan dia dapat membuat kebaikan itu ialah pendidiknya sama ada ibu dan ayahnya atau pun penjaganya.

Adapun orang-orang yang telah mendidik dia hingga dia biasa dengan kebaikan sebenarnya telah sama-sama bersyarikat dan telah sama-sama mendapat sahamnya. Ertinya, siapa-siapa yang telah menjadi pendidik kepada anak-anak itu, dia juga turut mendapat pahala daripada Allah SWT. Ramailah yang akan mendapat saham ini terutamanya ibu dan ayahnya atau datuknya atau abang dan kakaknya atau ibu dan bapa angkatnya. Dan akan turut mendapat saham bersama tentulah cikgu-cikgunya, ustaz-ustaznya, sahabat-sahabatnya dan siapa saja yang pernah mengajar dia tentang kebaikan. Jadi kalau kita lihat di sini guru-guru dan ustaz-ustaz yang terlibat mendidik anak-anak muridnya membuat kebaikan, dia adalah orang-orang yang bertuah. Bukan saja anak-anaknya sendiri membuat kebaikan. dia mendapat pahalanya malah anak-anak muridnya membuat kebaikan pun dia mendapat pahala yang sama. Kalau 100 anak muridnya telah dididik membuat kebaikan, maka 100 banyak kali pahala yang diterima daripada anak muridnya. Kalau 1000 orang anak muridnya membuat kebaikan, dia mendapat pahala dari 1000 anak muridnya. Yang demikian siapa- siapa saja yang menjadi tok-tok guru, ustaz-ustaz, mualim, cikgu-cikgu dan para pendidik, bertuahlah mereka itu kalau mereka dapat mendidik anak- anak muridnya membuat kebaikan dengan mengenal Allah yang disembah, mengenal ibadah dan bakti kepada Allah, mengenal akhirat lebih daripada mengenal dunia serta dapat mendorong anak-anak muridnya itu mencintai Allah daripada mencintai yang Iain-Iain.

Yang demikian, amat beruntunglah penjaga kepada kanak-kanak yang telah dapat mendidik anak-anaknya dengan membuat kebaikan. Dia telah mendapat saham percuma daripada kebaikan-kebaikan yang dilakukan oleh anak-anaknya. Kalau anak-anak itu bersembahyang, pahala sembahyang diperolehinya, kalau anak-anak itu berpuasa, pahala puasa itu diperolehinya, kalau anak-anak itu bersedekah, berjuang dan berjihad dan lain-lainnya, semua pahala itu juga diperolehinya. Hak ini adalah kalau sekiranya anak-anak itu dapat dididik secara Islam.

Sebaliknya, kata Imam Ghazali, jika anak-anak itu dibiasakan dengan kejahatan dan melakukan kecuaian seperti binatang, dia akan mendapat celaka dan akan binasa. Dia akan celaka di dunia dan celaka di akhirat. Ertinya, kalau anak-anak itu dibiasakan oleh sesiapa yang mendidiknya dengan kejahatan dan kemungkaran sahaja tidak dibiasakan dengan mengenal Allah, tidak dibiasakan dengan menyembah Allah, tidak dibiasakan hanya dengan perkara jahat dan mungkar sahaja, dibiasakanndengan membuat fasik, dibiasakan dengan akhlak jahat dan sebagainya, maka malanglah kanak-kanak itu. Dia akan mendapat kecelakaan dan kebinasaan bukan saja di akhirat bahkan di dunia lagi dia akan celaka dan binasa.

Adapun celaka dan binasa di dunia yang diterimanya adalah dalam bentuk jiwanya dan tidak pernah tenang, sentiasa resah dan gelisah. Dia tidak tahu langsung hendak membuat kebaikan melainkan sentiasa saja membuat kejahatan seperti tidak mahu sembahyang, tidak mahu puasa, tidak mahu mengaji fardhu ain, tidak mahu bersedekah, tidak mahu berjuang dan berjihad dan sebagainya. Yang suka dilakukannya hanyalah membuat kefasikan dan kemungkaran, berakhlak jahat, sombong, bongkak, takabur, hasad dengki, dendam mendendam, bergaduh, berjudi, minum arak, berzina, rasuah, menipu, mencuri, merompak dan akhirnya membawa kepada melakukan pembunuhan.

Jadi, itulah akibatnya yang diterima oleh kanak-kanak yang tidak dididik secara Islam itu. Akibat dari itu juga, jiwanya sentiasa tidak tenang dan akhirnya dia boleh kena tangkap dan kena penjara. Ertinya, di dunia lagi dia telah tertangkap dan terhukum. Tidak ada siapa yang suka kepadanya. Semua orang benci kepadanya. Oleh itu, di dunia lagi dia telah mendapat kebinasan dan kecelakaan sedangkan di akhirat kecelakaan dan kebinasaan yang lebih dahsyat akan menunggunya iaitu neraka Allah, waliyazubillah.

Kalau begitu, amat malang sekalilah seorang kanak-kanak yang tidak dididik dengan kebaikan, tidak dididik dengan agama Islam tetapi dididik dengan kejahatan semata-mata. Dia akan mendapat celaka di dunia dan celaka di akhirat. Maka itu siapa-siapa saja yang bertanggungjawab memeliharanya samada yang menjadi penjaganya, sama ada ibu dan ayahnya, sama ada guru-gurunya, sama ada ustaz-ustaznya serta pendidik-pendidiknya, semuanya sama-sama mendapat saham di akhirat nanti. Erti-nya, siapa-siapa yang terlibat dalam mendidik kanak-kanak itu dengan kejahatan semata-mata, dia juga akan menerima kecelakaan di akhirat nanti iaitu menerima azab neraka Allah. Maka dengan sebab itulah Allah peringatkan kepada kita di dalam firman-Nya yang bermaksud: “Peliharalah diri kamu dan ahli keluarga kamu daripada api neraka.”

Allah peringatkan kita demikian kerana memelihara anak-anak dan ahli keluarga kita daripada api neraka itu adalah penting dan mustahak kerana kalau mereka menerima azab neraka Allah di akhirat nanti, kita juga tidak akan dapat lepas lari. Mereka mendapat kecelakaan dan kebinasaan neraka Allah akibat daripada pendidikan yang telah kita lakukan ke atas mereka. Mereka terjerumus ke dalam neraka akibat dari kecuaian kita mendidik mereka mengikut yang dikehendaki oleh Allah dan Rasul serta mengikut Al Quran dan sunnah. Mereka mendapat celaka di dunia dan celaka di akhirat akibat dari kita sentiasa membiasakan mereka dengan kejahatan semata-mata. Kita sebagai ibu dan ayah, tidak akan dapat lepas lari dari perbuatan mereka itu. Kalau mereka menerima celaka di dalam neraka Allah, kita juga akan menerima nasib yang sama seperti mereka.

Setiap dosa yang mereka terima daripada kejahatan yang mereka lakukan, kita juga akan menerima dosanya. Dan oleh kerana itulah, sebelum anak-anak kita itu menerima bermacam-macam fahaman selain dari fahaman Islam, untuk dididik semula secara Islam adalah amat payah sekali. Kalaulah dia sedar ketika telah lewat umur nanti, payah sekali dia hendak mendidik dirinya secara Islam. Begitu juga dengan ibu dan ayah, kalau di akhir-akhir nanti dia mendapati anaknya itu banyak melakukan kesalahan dan kejahatan akibat dari penerapan fahaman-fahaman yang salah ketika kecilnya, ketika itu bila dia hendak didik semula secara Islam sudah payah. Sebab itulah ada setengah-setengah ibu dan ayah, apabila dia lihat anak dia sudah banyak melakukan kemungkaran, sudah derhaka dengan Tuhan dan derhaka pula dengannya, dia akan mengeluarkan kata-kata, “Apa boleh buat, dia sudah besar. Bukan senang kita nak suruh dia buat baik. Bukan senang kita nak suruh dia sembahyang. Sudah takdir Allah. Nabi-nabi pun ada yang tidak berjaya mendidik anak-anaknya.”

Cakap-cakap seperti ini hanya hendak mencari jalan keluar yang sedikit pun tidak diterima oleh Allah. Nabi-nabi walaupun ada yang tidak berjaya mendidik anak-anaknya, tetapi mereka telah mendidiknya sungguh-sungguh mengikut yang dikehendaki oleh Allah. Cuma, tidak berjayanya didikan itu kerana sudah ditakdirkan Allah demikian. Tetapi, kita dengan anak-anak kita berlainan; kita belum didik anak-anak kita dengan betul dan kita tidak didik anak-anak kita secara Islam. Yang kita didik ialah secara sekular, secara keduniaan dan secara yang lain dari Al Quran dan sunnah. Kemudian anak-anak kita itu jadi jahat, derhaka kepada Allah dan derhaka pula kepada kita. Ini adalah salah kita sendiri. Janganlah mudah- mudah kita hendak melepaskan diri dengan mencari alasan konon-konon nabi-nabi dan rasul-rasul pun ada juga yang tidak berjaya mendidik anak-anak dan isterinya.

Perlu kita ingat bahawa nabi-nabi dan rasul-rasul itu telah berusaha mendidik anak mereka itu dari kecil lagi. Tidak berjayanya mereka itu kerana ada hikmah dari Allah iaitu hendak menunjukkan kepada nabi-nabi dan rasul bahawa tugas mereka hanyalah menyampaikan saja tetapi yang berkuasa mengubah hati manusia ialah Allah sendiri. Jadi bagi nabi dan rasul, apabila ditanya oleh Allah di akhirat nanti, mereka akan lepas tetapi, yang berkuasa mengubah hati manusia ialah Allah sendiri. Jadi bagi nabi dan rasul, apabila ditanya oleh Allah di akhirat nanti, mereka akan lepas tetapi, kita tidak akan lepas kerana awal-awal lagi anak-anak kita itu telah kita didik dengan fahaman-fahaman sekular awal-awal lagi kita telah hantar anak- anak kita mempelajari perkara-perkara yang lain dari mengenal Allah SWT Sedangkan, “Awal-awal agama ialah mengenal Allah.”

Sebab itu, jangan mudah-mudah kita hendak mencari alasan apabila kita mendapati anak-anak itu sudah tersalah faham. Jadi, ketika anak-anak itu ibarat permata yang suci, masa itulah hendak kita didik supaya mengenal Allah, beribadah kepada Allah, berakhlak mulia dan sebagainya.

KEM MOTIVASI ALA MADRASAH

Sesi Taklimat Khas Untuk Ibubapa
Bagaimana nak tahu anak anda sudah pandai menipu anda? Bagaimana mahu memantau pergerakan dan pergaulan anak remaja anda semasa anda tiada di rumah? Mengapa anak anda tidak mahu berkongsi masalahnya dengan anda? Apa akan berlaku jika rakan atau teman anak anda mula mengajak anak anda keluar tanpa pengetahuan anda?

Kuncinya ialah pada didikan dan tarbiyah untuk anak anda. Bagaimana proses tarbiyah ini boleh dilakukan oleh ibubapa yang sibuk. Bahkan ada ibubapa merasakan diri mereka tidak mampu menjadi pendidik yang baik untuk anak-anak mereka…. Semuanya perlukan jawapan.

Untuk itu anda perlu berusaha hadir mengikuti sesi taklimat khas untuk ibubapa. Semua yang datang menghantar anak mereka bagi mengikuti KEM MOTIVASI ALA MADRASAH di Puchong pada 8 Disember nanti akan berpeluang mendapatkan jawapan serta teknik yang perlu dilakukan. Banyak pendekatan rohaniah dan lahiriah yang hanya akan diketahui daripada tokoh-tokoh yang terbukti telah berjaya mendidik anak-anak mereka. Mereka akan menceritakan pengalaman mereka.

Inilah yang akan kami kongsikan bersama para ibubapa nanti. Selamat datang ke KEM MOTIVASI ALA MADRASAH..

KEM MOTIVASI ALA MADRASAH
Menarik, Berilmu, Ceria Dan Menginsafkan

Anjuran : LIMPAHAN KASIH SOLUTIONS (03-80523814 / 019-6226183)
Tempat KEM : Sek. Men. Islam Zadut Taqwa (Rumah Amal Limpahan Kasih – RALK)
Lot 115, Lrg Bistari 3, Jalan Jurutera, Kg Seri Aman, Puchong, Selangor

Tarikh : 8 Hingga13 Disember 2014 (Isnin – Sabtu)
Umur Peserta : 10 – 13 tahun / 14 – 16 tahun / 17 tahun dan ke atas (Lepasan SPM)
HUBUNGI : Ustaz Mokhtar: 01121949613 /  Ust Haji Johari: 019-6226183 / Pn Cikgu Wan Nor Fauziah: 013-2576200

Kem Motivasi yang menyediakan pelbagai elemen menarik:
1. Bimbingan Asas Fardhu Ain & Bacaan Solat
– Perbahasan mudah secara ilmiah dan praktikal dalam LDK

2. Penghayatan Solat Sebagai Asas Bina Insaniah
– Menghayati terjemahan bacaan solat / Kaifyat solat & Mujahadah khusyuk

3. Hafalan Doa dan surah-surah utama dalam Al-Quran
– Kaedah tasmik harian selama 6 hari.

4. Kuliah & Tazkirah Sambil Berhibur / Santai – Tazkirah yang diutamakan; tidak rasmi

5. Alam Barzakh & Program Bina Kesedaran – Proses “RECALL” / muhasabah diri

6. Disiplin Pengurusan Diri, Penggunaan Gajet , HP / Android & Pengurusan Masa
– Disiplin dibentuk dari dorongan bukannya paksaan.

7. Motivasi Pelajar & Tip-tip Menghadapi Peperiksaan
– Kesedaran tentang pentingnya belajar bertitik tolak dari dalam diri.

8. Riadhah Berpendidikan (Tarbiyah) – Senaman berirama nasyid

9. Hidup Berpendidikan (Tarbiyah) – Hiburan sentiasa berlaku sepanjang program

10. Persembahan kumpulan ala teater, ala silat dan drama Islami (Tidak dipaksakan)
– Bermotifkan mencungkil bakat, kreativiti, bekerjasama dan rasa bersama

11. Nasyid Tema Kem Bina Insaniyah dan seni kebudayaan Islam
– Terdapat 4,5 buah lagu nasyid yang dialunkan bersama

12. Ekspedisi khas dan rehlah dengan bas ke Putrajaya dan Lembah Kelang
– Tarbiyah dan berinteraksi secara santai di sepanjang ekspedisi

13. Program Mengasah Minda& Menyuburkan rohaniah:
– Minda perlu diseragamkan dengan kehendak Allah. Kem ini menjadi cabaran
membina kaedah berfikir sebenar seperti yang Allah dan Rasul kehendaki.

14. A TO Z Bina Hati Sensitif Dengan Tuhan Pencipta Alam
– Manusia sepatutnya berbuat dan bertindak dengan hati yang takutkan Allah.

15. Program taklimat khas untuk ibubapa
– Pembentangan prestasi anak-anak sepanjang KEM MOTIVASI ALA MADRASAH dan apa yang perlu di lakukan semasa di rumah.

________________________________________________________________________________
SUMBANGAN (6HARI 5 MALAM): RM250 (Penyertaan 4 orang hanya RM500)
AKAUN MAYBANK LIMPAHAN KASIH SOLUTIONS: 562777220661

KALAU KAYU LURUS, BAYANGANNYA LURUS

Kalau murid-murid hendak jadi baik
Mestilah guru-guru terlebih dahulu jadi baik
Tidak mungkin guru-guru tidak baik murid-murid boleh jadi baik
Kalau anak-anak hendak menjadi baik
Hendaklah ibu bapa terlebih dahulu menjadi baik
Biasanya anak-anak meniru tindakan ibu bapanya yang baik
Itu pun susah anak-anak menjadi baik
Kerana pengaruh masyarakat yang tidak baik
Kalau rakyat hendak menjadi baik
Hendaklah terlebih dahulu pemimpin menjadi baik
Kerana pemimpin adalah ikutan orang ramai
Rakyat adalah bayangan pemimpin
Kerana bayangan itu mengikut kayu
Kalau kayu lurus bayangannya lurus
Kalau kayu itu bengkok bayangannya ikut bengkok
Sekarang ini pemimpin mahu rakyat menjadi baik
Sedangkan pemimpin tidak menjadi baik
Kerana kejahatan pemimpin dan rakyat tidak sama
Jahat pemimpin secara pemimpin
Jahat rakyat secara rakyat
Tapi sama-sama jahat
Rakyat tidak hormat pemimpin kerana pemimpin sudah jahat
Sebab itu rakyat tidak mendengar pemimpin memberi nasihat
Kerana rakyat tahu pemimpin juga jahat
Rasul itu orang baik, melahirkan Sahabat
Kalau pemimpin itu baik, melahirkan rakyat yang taat
Macam mana rakyat hendak taat kalau pemimpin tidak taat
Ketaatan pemimpin dan ketaatan rakyat, lahirlah masyarakat yang taat
Maka Tuhan pun turunkan rahmat dan berkat

17-07-2005

Call Now
Directions