Tag Archives: anak

Seorang Sahabat, Pelayan RSAW Dan juga Perawi Hadith!

#sang pelayan nabi saw diwaktu suka dan duka#

ANAS bin Malik RA masuk Islam saat usiannya belum genap 10 tahun. Dia terus bersama Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassallam dan mengabdi kepada beliau menghadap ke hadirat Allah Subhanahu Wata’ala. Saat itu usia Anas bin Malik RA 21 tahun.

Nama lengkap beliau Abu Hamzah atau Abu Tsumamah Anas bin Malik bin Nadlar Al-Khazraji Al-Anshari, berasal dari Bani Najjar. Ibunya bernama Ummu Salma Sahlah binti Malik bin Khalid, isteri kepada Malik bin Nadlar. Malik pergi ke Negeri Syam dan meninggal dunia disana. Setelah itu Ummu Salma dipinang oleh Abu Thalhah Zaid bin Sahal. Dia hendak menikah dengan Abu Thalhah dengan syarat  ia mahu masuk Islam.

Ummu Salma menjadikan keislaman Abu Thalhah sebagai mas kahwinnya. Pernikahan itu terjadi antara Bai’ah Aqabah pertama dan kedua. Dan Abu Thalhah turut serta dalam Bai’ah Aqabah kedua.

Saudara kandungnya, Al-Bara’ bin Malik adalah salah satu pahlawan Islam yang gagah berani dan gugur dalam Perang Tustur. Anas bin Malik RA lahir pada tahun ke-3 kenabian atau 10 tahun sebelum hijrah. Dia masuk Islam melalui ibunya ketika Nabi SAW hijrah ke Madinah. Jadi, Anas bin Malik RA termasuk Sahabat Nabi yang sangat muda. Kemudian Anas bin Malik RA dikurnia anak-anak dan keturunannya yang banyak. Hal itu dia peroleh berkat do’a Rasulullah SAW untuknya.

“Yaa Allah, berikanlah dia harta dan anak yang banyak dan berikanlah keberkatan kepadanya.”  Maka Anas bin Malik RA pun dikurnia harta yang banyak dan melimpah.

Dia juga dikurnia anak-anak dan cucu-cucu yang ramai. Jumlahnya hampir 100 orang. Anak-anaknya antaranya bernama Abu Bakar, Ubaidillah, Nadlar dan Musa

BERGURU KEPADA RASULULLAH SAW

Setelah masuk Islam Anas bin Malik RA terus menantikan hijrah Nabi SAW ke Madinah. Maka tatkala beliau tiba di Madinah kedua orang tuanya terus membawa Anas bin Malik kepada Nabi SAW agar diterima menjadi pelayan beliau.

Rasulullah SAW menerima kehadiran Anas bin Malik RA sebagai pelayannya. Rasulullah SAW mengasuh Anas bin Malik RA dan memeperlakukannya dengan baik. Beliau bahkan sering memanggilnya:  “Nak !” sebagaimana diriwayatkan oleh At- Tirmidzi dari Anas bin Malik RA bahwasannya Rasulullah SAW pernah bersabda kepadannya: “Nak! Kalau kamu boleh memasuki waktu pagi dan petang dengan hati yang bersih dari rasa hasad dengki kepada seseorang, lakukanlah.” Kemudian beliau bersabda “Nak! Itu adalah sebahagian dari Sunnahku. Barangsiapa yang menghidupkan Sunnahku bererti dia mencintaiku. Dan barangsiapa yang mencintaiku dia pasti akan bersamaku di Surga.”

Dan Nabi SAW memperlakukan Anas bin Malik RA dengan kelakuan yang sangat lembut. Bahkan Anas bin Malik RA pernah mengatakan: “Aku melayani Rasulullah SAW selama 10 tahun. Demi Allah , beliau sama sekali tidak pernah mengatakan: ‘Ah! Kepadaku. Beliau juga tidak pernah bertanya kepadaku: “Mengapa kamu berbuat begitu? Atau mengapa kamu berbuat begitu? ”

Anas bin Malik RA mendapatkan anugerah yang sangat besar dari Rasulullah SAW. Yaitu bahwa beliau berjanji akan memberikan syafa’at kepadannya. Anas bin Malik SAW mengatakan: “Aku pernah meminta kepada Nabi SAW agar beliau berkenan memberiku syafa’at pada Hari Kiamat kelak. Lalu beliau bersabda: “Ya aku akan melakukannya”. Kemudian aku bertanya: ‘Ya Rasulullah, di mana aku harus mencarimu? Beliau menjawab: ‘Pertama carilah aku di atas titian sirat(jambatan )’. ‘Jikalau aku tidak menemukanmu di atas shirath?’. Beliau menjawab: ‘Carilah aku di mizan (timbangan amal)’. Jikalau aku tidak menemukanmu  di mizan? Tanyaku lagi. Beliau menjawab: ‘Carilah aku di haudl (telaga). Karena aku tidak akan tidak ada dari tiga tempat itu.

MERIWAYATKAN HADITH

Anas bin Malik RA dengan Nabi SAW semenjak beliau hijrah ke Madinah sampai menghadap Allah SAW, memberinya kesempatan yang luas untuk meriwayatkan hadits sebanyak-banyaknya dari Nabi SAW. Jumlah Hadits yang diriwayatkan oleh para perawi dari Anas bin Malik RA mencapai 2286 buah Hadits. Dan tidak ada sahabat lain yang jumlah periwayatkan Haditsnya melebihi Anas bin Malik RA selain Abu Hurairah RA dan Abdullah bin Umar RA.

Anas bin Malik RA menjaga amanah ini dengan baik dan menyampaikannya seperti apa yang didengarnya. Dan selepas peninggalan Nabi SAW, Anas bin Malik RA pun menjadi guru besar bagi imam-imam besar, seperti Hasan Al-Bashri, Ibnu Sirin, Said bin Jubair, Qatadah, Az-Zuhri dan Umar bin Abdul Aziz. Namun apa yang diriwayatkan oleh para perawi itu tidak semuanya di dengar langsung oleh Anas bin Malik RA dari Nabi SAW.

Dengan kata lain sebahagian besar berasal dari mulut Nabi SAW ke telinga Anas bin Malik RA , dan sisanya dia dengar dari Abu Bakar , Umar bin Khattab, Ubadah bin Shamit, Muadz bin Jabal, Abdullah bin Mas’ud atau Abu Hurairah RA yang mendengar langsung dari Nabi SAW. Al-Hakim menceritakan bahwa Anas bin Malik RA pernah menyampaikan Hadits dari Rasulullah SAW. Kemudian ada yang bertanya: “Engkau mendengarnya terus dari Rasulullah SAW? ” Anas bin Malik RA menjawab : Demi Allah , tidak semua hadits yang kami sampaikan kepada kalian itu kami dengar langsung dari Rasulullah SAW satu sama lain, dan kami tidak saling curiga-mencurigai. Kesemua jumlah hadits yang dihafalnya tidaklah sedikit, dia sangat berhati-hati dan tidak gopoh dalam menyampaikan riwayat supaya dapat ia terhindar dari kesalahan. Dengan kata lain dia tidak menceritakan sesuatu yang dia yakini kebenarannya dan hafalannya. Anas bin Malik RA pernah berkata: “ Sekiranya aku pernah dengar dari Rasulullah SAW. Beliau pernah bersabda: “Barangsiapa yang berdusta atas namaku secara sengaja, hendaklah ia menempati tempat duduknya di Neraka”.

Rasulullah SAW pernah melarang para sahabat mencatat Hadits beliau agar tidak tercampur dengan Al-Qur’an . Tetapi setelah penulisan Al-Qur’an sempurna dan wahyu telah berhenti sepeninggal Rasulullah SAW, maka tidak ada lagi alasan untuk melarang penulisan Hadits. Dan Anas bin Malik RA adalah salah satu orang yang mencatat hadits Nabi SAW. Dia pernah berkata : “Ikatlah ilmu dengan tulisan ”

SEDIKIT KISAH MENGENAI ANAS BIN MALIK

Keistimewaan terpenting yang dimiliki oleh sahabat Nabi SAW ini ialah ketekunannya dalam menyampaikan hadits-hadits Nabi kepada umat islam. Itulah kesibukan yang paling utamanya sampai akhir hayatnya. Abu Bakar RA pernah menugaskan Anas bin Malik memungut Zakat di Bahrain atas usulan Umar bin Khathab . Karena Umar bin Khathab RA pernah berkata: “Kirimilah dia (Anas bin Malik) karena dia benar-benar pandai menulis.” Dan tatkala Abu Musa Al-Asy’ari memegang jawatan sebagai Gubenor Bashrah, Anas bin Malik dijadikan sebagai orang dekatnya. Abu Musa bahkan menyuruh Anas bin Malik untuk mewakilinya menghadap kepada Umar bin Khathab RA . Dan dia juga menugaskan Anas bin Malik RA memimpin kawasan Persia. Kemudian tatkala Abdullah bin Zubair dibai’ah menjadi Khalifah, Anas bin Malik RA ditunjuknya menjadi Gubenor Bashrah selama beberapa waktu.

Kesibukan Anas bin Malik dalam menekuni Hadits Nabi tidak menjadi penghalang baginya untuk berjuang di medan jihad. Anas bin Malik terlibat dalam Perang Badar dan Perang Uhud.

Ketika itu Anas bin Malik bertugas melayani keperluan Nabi SAW . Anas bin Malik terlibat dalam Perang Khandaq sebagai seorang pejuang yang mampu mematahkan leher orang-orang musyrik dan menjatuhkan mereka.

Setelah Nabi wafat, Anas bin Malik ikut serta dalam perang melawan orang-orang murtad dan mendapatkan kemenangan yang gemilang . Anas bin Malik juga pernah terjun ke medan Perang Qadisiyah . Kebetulan Anas bin Malik mahir memanah. Setelah Perang Tustur yang berakhir dengan kemenangan yang sangat gemilang . Abu Musa Al-Asy’ari, panglima perang tersebut menugaskan Anas bin Malik membawa para tawanan dan rampasan perang kepada Amirul Mukminin, Umar bin Khathab.

Anas bin Malik datang kepada Umar bin Khathab dengan membawa pimpinan Tustur, Hurmuzan.

Di masa akhir hidupnya,  Anas bin Malik  tinggal di salah satu sudut kota Bashsrah hingga usianya lebih dari 100 tahun. Di sana Anas bin Malik jatuh sakit dan terus berkata kepada orang-orang yang ada disekitarnya: “Tuntunlah aku membaca Laa ilaha illallah.” Anas bin Malik tidak berhenti membaca kalimat tauhid itu sampai menghembuskan nafas terakhirnya. Peristiwa itu terjadi pada tahun 93 Hijriyah. Ada yang menyatakan bahwa Anas bin Malik adalah Sahabat Nabi yang paling akhir meninggal dunia. Namun ada pendapat lain yang menyatakan bahwa setelah Anas bin Malik masih ada satu orang sahabat Nabi yang hidup, yaitu Abu Thufail Amir bin Watsilah Al-Laitasi yang wafat pada tahun 100 Hijriyah.*

DENGAN KITA BERCERITA DAN MEMBACA TENTANG PARA SAHABAT NABI SAW, SEMOGA KITA DAPAT MENCONTOHI MEREKA, YANG MANA DIAKHIR ZAMAN INI PENUH DENGAN SEGALA MACAM FITNAH….

BERAMAL JARIAH DI BULAN RAMADHAN DENGAN MENGERATKAN SILATURRAHIM SESAMA KITA

RAMADHAN BULAN UNTUK MEMBUAT KEBAJIKAN SEBANYAKNYA… 
Kepada,
 
Yang Berbahagia Tuan/Puan,
 
# BERAMAL JARIAH DI BULAN RAMADHAN
  UNTUK MEREKA YANG MEMERLUKAN #
 
Dengan ini dimaklumkan bahawa ” RUMAH AMAL LIMPAHAN KASIH  (RALK)” mula beroperasi pada Januari 2006 yang berfungsi menjaga anak-anak yatim, fakir miskin, warga emas dan ibu tunggal.Bilangan penghuni yang menetap di RALK sekarangialah seramai 140 orang
pelajar dan 30 orang sukarelawan yang terdiri daripada guru-guru
dan pembantu-pembantu dalam pengurusan dan pentadbiran di RALK.

Justeru, bersempena dengan ketibaan Ramadhan yang penuh berkat dan ganjaran keredhaan dari Allah buat hamba-hamba yang soleh, RALK ingin mengajak para dermawan bersama-sama kami dalam menghiburkan dan membela nasib mereka.

Berikut disenaraikan keperluan penghuni RALK untuk menyambut kedatangan Ramadhan dan Syawal. Moga-moga apa jua sumbangan dari para dermawan akan menjadi bekalan di Akhirat kelak.

“Gembirakanlah Hamba Allah,Nescaya Allah Akan Menggembirakan Kita”
  • TAJAAN MAJLIS BERBUKA DAN TAJAAN SAHUR
  • JEMPUTAN BERBUKA PUASA
  • TAJAAN PAKAIAN, KASUT, TUDUNG, SONGKOK
  • SUMBANGAN DUIT RAYA UNTUK ANAK-ANAK
  • SUMBANGAN BISKUT RAYA DAN JAMUAN RAYA

*Untuk sebarang pertanyaan, sila hubungi pejabat pentadbiran di talian:

  • 03-80523814 / 03-80618050
  • 018-9191658 Puan Yani / 011-37037672 Puan Aiman

*Sumbangan juga boleh dibuat atas nama akaun:

  • Limpahan Kasih Solutions                                            : 562777220661   
  • Pusat Pendidikan Limpahan Kasih                               : 562777200627

PENGURUS RALK: Rashidah binti Abdullah

-Sekian,terima kasih-

“susah orang susah kita,
senang orang dikongsi bersama”

MENDIDIK ANAK UNTUK HARI TUA KITA ATAU UNTUK ALLAH?

Bagi kebanyakan manusia, termasuk orang Melayu, anak-anak yang masih kecil dianggap sebagai cahaya mata, belahan hati, penawar jiwa, intan payung dan macam-macam lagi. Sangat disayang dan dimanjakan. Apabila besar sikit, disediakan anak-anak itu untuk menghadapi tuntutan hidup. Diberi pelajaran dan kemahiran setinggi-tingginya supaya apabila besar nanti dapat kerja, dapat jawatan dan dapat gaji lumayan. Mereka rasakan itulah tanggungjawab mereka terhadap anak-anak. Mereka mahukan anak-anak mereka berjaya dan senang dalam hidup.

Kadang-kadang terselit juga di hati ibu ayah, kalau-kalau anak-anak sudah besar dan berjaya, maka akan senanglah hidup ibu ayah. Anak-anak akan membantu dan membela mereka. Anak-anaklah menjadi tempat mereka bergantung apabila tua kelak. Anak-anaklah yang menjamin masa depan mereka. Mereka bersandar kepada
anak-anak mereka untuk hari tua.

Memang anak-anak patut membela dan berkhidmat kepada ibu ayah setelah mereka tua. Ini tuntutan fitrah. Ini
juga tuntutan agama. Allah pun memang hendak begitu. Tetapi patutkah ibu ayah mendidik anak-anak untuk
tujuan ini semata-mata?

Patutkah ibu ayah mendidik anak-anak untuk kepentingan diri mereka sendiri? Patutkah anak-anak itu dianggap sebagai satu pelaburan untuk kebaikan dan kesenangan masa depan ibu ayah?
Kalau begitu, anak-anak tidak ubah sebagai haiwan ternakan. Dibela, diternak supaya akan dapat merasakan untung dan hasilnya satu hari nanti. Kalau begitu mendidik anak tak ubah seperti satu usaha komersial atau satu penanaman modal atau satu kegiatan ekonomi.

Konsep ini perlu dikikis dan dibuang jauh-jauh. Ia tersimpang dari kehendak agama dan kehendak Allah. Anak-anak itu adalah amanah Allah. Mereka perlu dididik untuk Tuhan.Mereka perlu dididik untuk mengenal, mencintai dan takutkan Allah. Mereka perlu dididik supaya menjadi hamba Tuhan selepas itu menjadi khalifah Tuhan dimuka bumi. Mereka perlu dididik untuk mengabdi diri kepada Allah dan menjadikan cinta agung mereka. Mereka perlu dididik supaya menjadi orang yang beriman dan bertaqwa yang hidup mati mereka hanyalah untuk Tuhan. Anak-anak itu anugerah Allah. Oleh itu, kenalah didik mereka untuk Allah.

Kalau ini dilakukan, barulah anak-anak itu akan menjadi orang-orang soleh yang berakhlak dan berjasa. Orang yang beriman dan bertaqwa sudah tentu akan berkhidmat kepada Tuhannya dan sesama manusia, lebih-lebih lagilah kepada kedua-dua ibu dan ayah mereka. Soal anak-anak menjaga dan membela ibu ayah mereka akan terjadi dengan sendiri setelah anak-anak itu menjadi hamba-hamba yang beriman dan bertaqwa.

Apabila anak-anak dididik hanya untuk mengejar dunia dan tidak untuk mengenal, mencintai dan takut dengan
Allah, maka dunialah yang akan menjadi matlamat hidup mereka. Keinsanan mereka tidak akan terbina, nafsu
mereka akan menjadi rakus dan segala sifat-sifat mazmumah yang keji seperti tamak, haloba, hasad, dengki, bakhil, pemarah dan lain-lain yang bersarang dihati mereka.

Mereka tidak akan mempedulikan halal atau haram, hak atau batil, benar atau salah, adil atau zalim, manusia
ataupun Allah. Kalau Allah pun mereka tidak pedulikan, apakah harapan mereka memperdulikan ibu ayah mereka,
jauh sekali untuk membela dan berkhidmat kepada mereka. Ibu ayah akan menjadi penghalang untuk mereka
mengejar dunia mereka. Mereka akhirnya derhaka kepada ibu dan ayah.
Di Akhirat nanti anak-anak ini akan menjadi orang yang muflis. Mereka akan menentang dan menjadi seteru kepada ibu ayah mereka. Mereka akan menuntut hak yang tidak diberikan kepada mereka. Mereka akan menyalahkan ibu ayah mereka kerana tidak mendidik mereka untuk Allah. Ibu dan ayah yang tidak mendidik anak-anak mereka untuk Allah pasti akan rugi di dunia dan lebih-lebih lagi di Akhirat. Di Akhirat nanti anak yang mereka sayang itu akan bertukar menjadi musuh.

Kalau anak-anak dididik untuk Allah hingga mereka menjadi orang-orang yang beriman dan bertaqwa mereka akan menjadi aset kepada kedua ibu ayah mereka. Mereka akan menjadi aset di dunia dan aset di Akhirat. Di dunia mereka akan berkhidmat dan membela kedua ibu ayah mereka. Apabila mati kedua ibu dan ayah, anak seperti ini akan mendoakan mereka. Doa mereka tidak terhijab. Ibu dan ayah juga kan terus mendapat pahala yang mengalir ke dalam kubur hasil dari amalan soleh yang dibuat oleh anak mereka di dunia berkat dididkan dan ilmu yang telah mereka curahkan kepada anak mereka itu.
Hadis ada menyebut:
” Bila mati anak Adam, akan terputuslah segala amalannya kecuali tiga perkara iaitu sedekah jariah yang dibuatnya, ilmu yang bermenafaat yang diajarnya dan anaknya yang soleh.”

Kita harus ingat bahawa anak kita itu adalah hamba Allah. Allah lebih berhak ke atasnya daripada kita. Hanya Allah mengamanahkan dia kepada kita. Oleh itu, kita perlu didik dia untuk Allah, bukan untuk kita.

Anak kita hanya anak kita sementara di dunia. Di Akhirat, dia bukan anak kita lagi. Di Akhirat, anak tak peduli ayah, anak tak peduli ibu. Ibu ayah juga tak pedulikan anak. Masing-masing sibuk dengan urusan masing-masing. Setakat mana kita mampu mendidik anak-anak kita untuk Allah, setakat itulah manfaatnya untuk diri kita.

KEKAYAAN DAN FALSAFAHNYA

Di dalam kehidupan di dunia ini ada kekayaan lahir , ada kekayaan batin dan kedua-duanya adalah anugerah ALLAH. Semestinya pula ada peranan dan falsafahnya. Oleh kerana kekayaan menjadi idaman semua, bila sebut kaya, kita rasa seronok, rasa bangga, rasa puas. Setiap kekayaan ada racunnya, ada implikasi, maka hendaklah kita tahu kekayaan macam mana yang boleh menyelamatkan dan kekayaan macam mana yang boleh merosakkan, mesti ada tanda baik, mesti ada tanda buruk. Ada bawa bahagia,ada bawa kesengsaraan. Ada awalnya baik tetapi hujungnya menderita. Kita tidak dilarang memburu kekayaan, jangan kata agama Islam melarang cari kekayaan tetapi yang penting kita ada ilmu mengenainya.

Bila disebut sahaja kekayaan, yang cepat dingat dan difokus ialah kekayaan harta dan wang ringgit. Manusia memburu dan mencari… tak ada wang dan harta tak kaya namanya. Tak terfikir akan kekayaan selain harta dan wang ringgit. Kalaupun ada yabg terfikir bahawa kekayaan itu bukan semata-mata harta dan wang ringgit, tetapi aspek ini kurang diminati, kurang diperbualkan, kurang diperkatakan oleh manusia…tak jadi igauan. Ini menunjukkan di antara fitrah semulajadi manusia ialah ingin kaya atau kekayaan yang sangat menjadi tarikan dan minat adalah kekayaan harta dan wang ringgit. Sehinggakan budak kecil pun terpengaruh dengan wang ringgit…lihatlah suasana di Hari Raya di mana budak-budak kecil asyik mengira duit raya mereka. Ini menunjukkan kekayaan wang ringgit dan harta kekayaan mata benda dunia sangat mempengaruhi jiwa dan fikiran manusia. Akhirnya manusia sibuk mengumpul harta macam Qarun… bila jumpa kawan-kawan,tanya ada projek ke ?

Dalam pengalaman kehidupan manusia kita lihat manusia bertungkus lumus, bekerja keras mencari harta dan wang ringgit, lebih dari yang lain… tetapi dalam mencari Tuhan mereka tak bekerja keras pula macam mencari harta sedangkan yang dicari itu Tuhan yang punya. Ada yang mencari harta sampai lupa Tuhan,sampai lupa sembahyang. Orang kaya raya seperti Onassis pun mati. Dalam belajar mencari ilmu pun ingat nak gaji tinggi, nak jadi kaya . Nak berkawan pun ada niat nak jadi kaya. Hingga nak berkahwin pun adakalanya nak cari harta juga. Begitulah kuatnya pengaruh kekayaan harta dan wang ringgit kepada manusia.

1.JENIS-JENIS KEKAYAAN
Yang sebenarnya kekayaan dalam kehidupan manusia di dunia ini bukan kekayaan harta dan wang ringgit sahaja semata-mata. Banyak lagi kekayaan-kekayaan lain yang jarang diperkatakan manusia. Bahkan ada kekayaan lebih baik daripada wang ringgit dan harta. Di bawah ini kita akan senaraikan jenis-jenis kekayaan manusia:-
1.Kaya wang ringgit dan harta
2.Kaya ilmu dan pengalaman
3.Kaya dengan anak-anak
4.Kaya dengan pengikut
5.Kaya jiwa
6.Kaya budi bahasa
7.Kaya kawan dan kenalan

KAYA WANG RINGGIT DAN HARTA

Salah satu tarikan kepada manusia ialah kekayaan harta dan wang ringgit. Disini ada dua golongan manusia:

1.Golongan yang mencari harta yang halal semata-mata.

2.Golongan yang mencari harta tak kira halal dan haram, semuanya disapu belaka. Apa saja yang boleh mendatangkan kekayaan dibuat. Contoh: berjudi, arak, menipu, menerima rasuah, membuka disko dsbnya.

Islam tidak melarang umatnya mencari kekayaan sesuai dengan fitrah manusia itu tetapi dengan beberapa syarat: (Sila ambil perhatian bahawa perbincangan ini adalah untuk orang Islam. Sebab kalau kita tak cukup ilmu, dari kekayaan yang halal akan jadi haram)

1.Mencari kekayaan hendaklah secara yang halal; bertani, berniaga, mengajar dsbnya.

2.Bila dah guna cara yang halal, kemudian dah jadi kaya dan cukup haulnya (tempoh masa) kenalah diberi
zakat. Kalau tak beri zakat, harta yang halal tadi dah jadi haram pula.

3.Bila dah kaya, hendaklah bersifat pemurah, rajinlah bersedekah. Kita tanam padi, padi yang lebih yang
dimakan binatang, kita niat sedekah.

4.Harta kekayaan yang kita perolehi hendaklah kita gunakan ke jalan ALLAH untuk menyelamatkan diri daripada
kemurkaan ALLAH…menutup aurat, bangunkan rumah  ibadah, bukan masjid sahaja tetapi juga bangunkan
sekolah, hospital, rumah anak yatim dll.

5.Jangan ada pembaziran dan membuang-buang harta dengan tidak menentu. Pengurusan harta hendaklah
dengan betul. Seeloknya kita jadi ‘bank’ kepada  masyarakat…kita beri sedikit-sedikit, macam dam atau empangan air; kita buka saluran air dengan kecil, supaya tak jadi bah atau banjir besar.

6.Kekayaan yang kita perolehi tidak digunakan untuk maksiat dan menderhakai ALLAH. Cuba beli dari kedai
orang Islam. Tak usahlah beli majalah-majalah yang tak senonoh.

7.Dalam mencari harta kekayaan, jangan sampai meninggalkan perkara-perkara yang asas dalam Islam
seperti jangan sampai tak sembahyang, tak puasa, tak naik haji.

8.Sebagai orang yang kaya harta dan wang ringgit kita kena tunaikan wajib yang aradhi (wajib yang datang
kemudian) contoh: pada suatu masa masyarakat Islam perlu buat sekolah atau masjid, kewangan tak cukup,
masyarakat umum tak mampu, maka orang kaya (orang yang ada duit lebih) di kalangan mereka kena tanggung
kewajipan ini.

Sekiranya syarat-syarat yang diatas dipenuhi barulah harta dan wang ringgit yang kita punyai dikira halal…jadi bila kita nak kaya kenalah pasang  niat…bila kaya nanti saya nak bayar zakat, nak bagi diskaun dekat pelanggan, nak bantu orang susah, nak tolong ibu bapa dll. Kalau kita tak ada ilmu macam mana kita nak pasang niat.

Selalunya sikap orang kaya Islam, majoritinya apa yang berlaku dalam sejarah tidak bersykur kepada ALLAH dan
mereka membuat perkara-perkara seperti dibawah:-

1.Selalunya mendapat kekayaan tidak kira halal dan haram.
2.Sombong dengan Tuhan dan manusia
3.Bakhil dan kedekut
4.Menjadi orang yang tamak yang rasa tidak cukup.
5.Lalai dengan ALLAH seperti cuai dengan syariatNya.
6.Tidak mengeluarkan zakat.
7.Menyalah-gunakan kekayaan dengan memberi rasuah.
8.Apatah lagi hendak bertanggungjawab dengan
keperluan-keperluan masyarakat Islam yang aradhi
sudah tidak berlaku.Kalaupun ada bantuan, ada udang
disebalik batu.

Mari kita sama-sama suluh-suluh diri kita… apa yang kita lakukan selama ini dah ikut syarat atau belum? Kalau tak cukup syarat, sudah tentu tak selamat diri kita dan juga orang-orang lain di bawah tanggungan kita. Nanti di Akhirat sudah tentu kita terhukum…akibat tak cukup ilmu dan tak faham syariat.

 

PENYESALAN SEORANG IBU

Suatu hari seorang alim berniat untuk pergi ke Tanah Suci mengerjakan ibadah haji. Waktu dia meminta izin kepada ibunya, ternyata ibunya yang sudah tua itu sangat keberatan. Menurut ibunya, tunda dahulu keberangkatanmu sampai tahun depan. Ia merasa bimbang terhadap keselamatan anaknya, kerana orang alim itu adalah satu-satunya anak yang hidup dari hasil perkahwinan dengan almarhum suaminya.
Rupanya orang alim yang soleh itu sudah tidak dapat menahan keinginannya untuk menunaikan rukun Islam yang kelima. Maka, walaupun tidak mendapat restu dari ibunya, dia berkemas-kemas lalu berangkat menuju ke Tanah Haram. Jelas keputusannya ini bertentangan dengan ajaran Nabi. Kerana redha Allah bergantung kepada redha orang tua, begitu pula murka Allah terletak dalam murka orang tua.
Ketika menyaksikan anaknya yang pergi juga, ibu yang sudah tua itu tergopoh-gapah mengejar anaknya. Akan tetapi anaknya itu sudah telalu jauh. Dia tidak mendengar suara ibunya yang memanggil-manggil sambil berlari-lari itu. Dalam marahnya ibu yang sangat cinta kepada anaknya tersebut menadahkan kedua tangannya lalu berdoa: “Ya Allah, anakku satu-satunya telah membakar diriku dengan panasnya api perpisahan. Ku mohon pada-Mu, balaslah dia dengan seksaan yang setimpal. Sebagai ibunya, aku merasa sakit hati, ya Allah.”
Doa ini jelas tidak pada tempatnya bagi seorang ibu yang seharusnya bijaksana. Sebab di antara doa-doa yang dikabulkan adalah doa seorang ibu terhadap anaknya. Bumi seolah-olah bergoyang mendengar doa ini.
Namun orang alim tadi terus juga berjalan. Dekat sebuah kota kecil sebelum sampai tempat tujuannya, orang alim itu berhenti melepaskan lelah. Menjelang Maghrib dia berangkat ke masjid dan solat sampai Isyak. Sesudah itu ia terus mengerjakan solat-solat sunat dan wirid hingga jauh malam.
Secara kebetulan di sudut kota yang lain, pada malam itu terjadi peristiwa yang menggemparkan. Ada seorang pencuri yang masuk ke dalam rumah salah seorang penduduk. Orang yang punya rumah terjaga dan bersuara. Tiba-tiba pencuri itu terjatuh kerana terlanggar suatu benda di kakinya. Ketika terdengar bunyi sesuatu yang jatuh itu, maka orang yang punya rumah pun memekik-mekik sambil berkata: “pencuri! pencuri.”
Seisi kampung terbangun semuanya. Dengan ketakutan pencuri itu lari sekuat tenaga. Orang-orang kampung terus mengejarnya. Pencuri itu lari ke arah masjid dan masuk ke halaman masjid tersebut. Orang-orang pun mengejar ke sana. Ternyata pencuri itu tidak ditemukan di dalam rumah Allah itu. Salah seorang di antara mereka memberitahu kepada pemimpinnya: “Kita sudah mencari di sekeliling masjid, namun tidak ada bekas-bekasnya sedikitpun.”
Yang lainnya pula berkata: “Tidak mungkin dia ditelan bumi, aku yakin dia belum lari dari sini. Kalau di luar masjid tidak ada, mari kita cari ke dalam masjid. Berkemungkinan dia bersembunyi di situ.”
Maka orang-orang pun masuk ke dalam masjid. Ternyata betul, di dekat mimbar ada seorang asing sedang duduk membaca tasbih. Tanpa bertanya-tanya lagi orang itu ditarik keluar. Tiba di halaman masjid, orang tadi sudah terkulai dan pengsan kerana dipukul beramai-ramai.
Penguasa hukum di kota tersebut malam itu juga memutuskan suatu hukuman yang berat kepadanya atas desakan masyarakat yang marah. Maka orang tersebut diikat pada tiang dan dicambuk badannya.
Keputusan dari hakim ini jelas menyalahi ajaran Nabi, bahawa seorang hakim seharusnya menyelidiki hingga hujung suatu perkara, dan tidak boleh menjatuhkan keputusan berdasarkan hawa nafsu. Begitu juga walaupun lelaki itu dituduh menodai kesucian masjid kerana bersembunyi di dalamnya, dengan berpura-pura bersembahyang dan membaca wirid, padahal dia adalah pencuri.
Pagi-pagi lagi seluruh penduduk kota itu sudah berkumpul di pasar menyaksikan jalannya hukumam qisas itu. Selain algojo melaksanakan tugasnya, orang-orang pun bersorak-sorak melihat si alim dicambuk hingga pengsan. Mereka tidak lagi mematuhi ajaran Islam untuk berbuat adil terhadap siapa saja, termasuk kepada pencuri yang jahat sekalipun. Darah memercik ke sana ke mari, orang-orang kelihatan semakin puas.
Semakin siang semakin ramai orang yang berkumpul menonton dan meludahi pencuri yang terkutuk itu. Dalam kesakitannya, orang alim yang dihukum sebagai pencuri itu mendengar salah seorang penduduk yang berkata: “Inilah hukuman yang setimpal bagi pencuri yang bersembunyi di dalam masjid!”
Sambil meludah muka orang alim tersebut.Orang yang dihukum yang dianggap pencuri ini dengan suara yang tersendat-sendat membuka mulutnya berkata: “Tolong jangan katakan demikian. Lebih baik beritahukanlah kepada orang ramai bahawa saya ini adalah hamba Allah yang ingin mengerjakan ibadah haji, tapi tidak mendapat restu dari orang tua.”
Mendengar ucapan ini, orang yang mendengar jadi terkejut dan menanyakan siapakah dia sebenarnya. Orang alim tadi membuka rahsianya, dan masyarakat jadi serba salah. Akhirnya mereka terpaksa memberitahukan hal itu kepada hakim.
Setelah hakim itu datang dan tahu duduk perkara yang sebenarnya, maka semua mereka menyesal. Mereka kenal nama orang alim itu, iaitu orang yang soleh dan ahli ibadah. Cuma belum pernah tahu rupanya. Ibu-ibu yang hadir serta orang tua lainnya ramai yang merasa sedih tidak dapat menahan diri, tapi sudah tidak ada gunanya.
Malamnya, atas permintaan orang alim itu setelah dibebaskan dari seksaannya, dihantarkan ke rumah ibunya. Pada waktu orang alim tersebut akan dihantar, ibunya telah berdoa: “Ya Allah, jika anakku itu telah mendapatkan balasannya, maka kembalikanlah dia kepadaku agar aku dapat melihatnya.”
Begitu selesai doa si ibu, orang yang membawa anaknya pun sampai. Orang alim itu minta didudukkan di depan pintu rumah ibunya, dan mempersilakan orang yang mengantarnya itu pergi. Sesudah keadaan sunyi kembali, tidak ada orang lain, maka orang alim itupun berseru dengan suara yang pilu: “Asalamualaikum.”
Maka terdengarlah suara orang tua yang menjawab salamnya dari dalam. Bergetar hati si alim mendangar suara itu:“Saya adalah musafir yang terlantar. Tolonglah beri saya roti dan air sejuk,” kata orang alim itu menyamar diri.
“Mendekatlah engkau ke pintu. Hulurkan tanganmu melalui celah pintu,” jawab suara tadi dari dalam.
“Maaf, saya tidak boleh mendekati pintu kerana kedua kaki saya sangat kaku. Saya juga tidak dapat menghulurkan tangan melalui celah pintu, kerana tangan saya terasa letih.”
“Jadi bagaimana caranya?” Si ibu mengeluh kehilangan akal.
“Antara kita ada pemisah yang tidak boleh dilanggar. Engkau lelaki yang tidak saya kenal, dan saya, walaupun sudah tua, adalah seorang perempuan.”
“Jangan bimbang wahai puan,” kata orang alim tersebut. “Saya tidak akan membuka mata kerana kedua mata saya sangat pedih, jadi saya tidak akan melihat ke arah puan.”
Mendengar jawapan itu, tidak beberapa lama kemudian perempuan itu pun keluar membawa sepotong roti dan segelas air sejuk. Orang alim itu begitu saja merasakan kehadiran ibunya, sudah tidak mampu lagi menahan diri. Ia memeluk kaki ibunya dan menjerit sambil menangis: “Ibu, saya adalah anak ibu yang derhaka.”
Ibunya pun merasa sedih. Dipandangnya orang cacat di mukanya itu lalu ia menjerit ternyata adalah anaknya. Mereka berdua saling berpelukan dalam tangisan.
Ketika itu juga perempuan tersebut menadahkan tangannya memohon ampun kepada Allah: “Ya Allah, kerana telah jadi begini sungguh saya menyesal atas kemarahan saya kepada anak sendiri, saya bertaubat untuk tidak mengulangi lagi perkara ini, ampunilah saya ya Allah, serta ampunilah dosa orang-orang yang menyeksanya kerana kami semua telah disesatkan oleh godaan iblis dengan nafsu marah.

Call Now
Directions