Tag Archives: Rumah Amal Limpahan Kasih

TERIMA KASIH 💞😇

Alhamdulillah dengan keberkatan di bulan Ramadhan yang mulia ini Rumah Amal Limpahan Kasih, mendapat sumbangan berbentuk barangan elektrik seperti mesin basuh dan juga blender, pada hari Eabu bersamaan 24 Ramadhan, daripada Cik Nor Zarifah dan keluarga (ayah dan mak).

Moga-moga segala yang disalurkan kepada RALK di nilai sebagai ibadah oleh Allah S.W.T dan diberikan rezeki yang berlipat ganda, segala urusan lahir dan batin dalam keluarga dipermudahkan Allah S.W.T, dan segala hajat dan doa Allah S.W.T kabulkan dengan keberkatan para kekasihNya



#Moga-moga kita semua mendapat Ramadhan yang hakiki
❖❖RAMADHAN MEMBAWA KEMUNCAK KERINDUAN SEORANG HAMBA❖❖

PAHLAWAN YANG TERBILANG!

“Aku adalah orang ketiga yang memeluk Islam, dan orang pertama yang melepaskan anak panah di jalan Allah”

Demikianlah Sa’ad bin Abi Waqqas mengenalkan dirinya. Ia adalah orang ketiga yang memeluk Islam, dan orang pertama yang melepaskan anak panah dari busurnya di jalan Allah.

Sa’ad bin Abi Waqqas bin Wuhaib bin Abdi Manaf hidup di tengah kaum Bani Zahrah yang merupakan pakcik Rasulullah SAW. Wuhaib adalah datuk kepada Sa’ad dan beliau adalah pakcik kepada Aminah binti Wahab, yaitu ibunda Rasulullah.

Sa’ad dikenali orang kerana ia adalah pakcik Rasulullah SAW.  Dan baginda sangat bangga dengan keberanian dan kekuatan, serta ketulusan iman yang ada pada Sa’ad. Nabi bersabda, “Ini adalah pakcikku, perlihatkanlah kepadaku pakcik kalian!”

Keislamannya termasuk beliau termasuk yang paling awal, karena ia mengenal baik peribadi Rasulullah SAW. Mengenal kejujuran dan sifat amanah baginda. Ia sudah sering bertemu Rasulullah sebelum baginda diutus menjadi nabi. Rasulullah juga mengenal kebaikan Sa’ad. Hobinya berperang dan orangnya pemberani. Sa’ad sangat jaguh memanah, dan selalu berlatih sendiri.

Kisah keislamannya sangatlah cepat, dan ia pun menjadi orang ketiga dalam deretan orang-orang yang pertama masuk Islam, Assabiqunal Awwalun.

Sa’ad adalah seorang pemuda yang sangat patuh dan taat kepada ibunya. Sedemikian dalam sayangnya Sa’ad pada ibunya, sehingga seolah-olah cintanya hanya untuk sang ibu yang telah memeliharanya sejak kecil hingga dewasa, dengan penuh kelembutan dan berbagai pengorbanan.

Ibu Sa’ad bernama Hamnah binti Sufyan bin Abu Umayyah adalah seorang wanita hartawan keturunan bangsawan Quraisy, yang memiliki wajah cantik dan anggun. Disamping itu, Hamnah juga seorang wanita yang terkenal cerdik dan memiliki pandangan yang jauh. Hamnah sangat setia kepada agama nenek moyangnya; penyembah berhala.

Pada suatu hari, Abu Bakar As-Siddiq mendatangi Sa’ad di tempat kerjanya dengan membawa berita dari langit tentang diutusnya Muhammad SAW, sebagai Rasul Allah. Ketika Sa’ad menanyakan, siapakah orang-orang yang telah beriman kepada Muhammad SAW. Abu Bakar mengatakan dirinya sendiri, Ali bin Abi Thalib, dan Zaid bin Haritsah.

Seruan ini mengetuk kalbu Sa’ad untuk menemui Rasulullah SAW, untuk mengucapkan dua kalimat syahadat. Ia pun memeluk agama Allah pada saat usianya baru menginjak 17 tahun. Sa’ad termasuk dalam deretan lelaki pertama yang memeluk Islam selain Ali bin Abi Thalib, Abu Bakar As Siddiq dan Zaid bin Haritsah.

Setelah memeluk Islam, keadaannya tidak jauh berbeza dengan kisah keislaman para sahabat lainnya. Ibunya sangat marah dengan keislaman Sa’ad. “Wahai Sa’ad, apakah engkau rela meninggalkan agamamu dan agama bapamu, untuk mengikuti agama baru itu? Demi Allah, aku tidak akan makan dan minum sebelum engkau meninggalkan agama barumu itu,” ancam sang ibu.

Sa’ad menjawab, “Demi Allah, aku tidak akan meninggalkan agamaku!”

Sang ibu tetap nekat, karena ia mengetahui bahwa Sa’ad sangat menyayanginya. Hamnah mengira hati Sa’ad akan luluh jika melihatnya dalam keadaan lemah dan sakit. Ia tetap mengancam akan terus melakukan mogok makan.

Namun, Sa’ad lebih mencintai Allah dan Rasul-Nya. “Wahai Ibunda, demi Allah, seandainya engkau memiliki 70 nyawa dan keluar satu persatu, aku tidak akan pernah mahu meninggalkan agamaku selamanya!” tegas Sa’ad.

Akhirnya, sang ibu yakin bahwa anaknya tidak mungkin kembali seperti sedia kala. Dia hanya dirundung kesedihan dan kebencian.

Allah SWT mengekalkan peristiwa yang dialami Sa’ad dalam ayat Al-Qur’an, “Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.” (QS. Luqman: 15).

Pada suatu hari, ketika Rasulullah SAW, sedang duduk bersama para sahabat, tiba-tiba beliau menatap ke langit seolah mendengar bisikan dari malaikat. Kemudian Rasulullah kembali menatap para sahabatnya dengan bersabda, “Sekarang akan datang di hadapan kalian seorang lelaki penghuni syurga”

Mendengar ucapan Rasulullah SAW, para sahabat memandang ke kanan dan ke kiri pada setiap arah, untuk melihat siapakah gerangan lelaki berbahagia itu yang menjadi penghuni syurga. Tidak lama kemudian datanglah lelaki yang ditunggu-tunggu itu, dialah Sa’ad bin Abi Waqqas.

Disamping terkenal sebagai anak yang berbakti kepada orang tua, Sa’ad bin Abi Waqqas juga terkenal karena keberaniannya dalam peperangan membela agama Allah. Ada dua hal penting yang dikenal orang tentang kepahlawanannya. Pertama, Sa’ad adalah orang yang pertama melepaskan anak panah dalam membela agama Allah dan juga orang yang mula-mula terkena anak panah. Ia menyertai Nabi Saw hampir dalam setiap pertempuran.

Kedua, Sa’ad adalah satu-satunya orang yang dijamin oleh Rasulullah SAW dengan jaminan kedua orang tua baginda. Dalam Perang Uhud, Rasulullah SAW bersabda, “Panahlah, wahai Sa’ad! Ayah dan ibuku menjadi jaminan bagimu.”

Sa’ad bin Abi Waqqash juga dikenal sebagai seorang sahabat yang doanya sentiasa dikabulkan Allah. Qais meriwayatkan bahwa Rasulullah saw pernah bersabda, “Ya Allah, kabulkanlah doa Sa’ad jika dia berdoa.”

Sejarah mencatat, hari-hari terakhir Sa’ad bin Abi Waqqas adalah ketika ia memasuki usia 80 tahun. Dalam keadaan sakit, Sa’ad berpesan kepada para sahabatnya agar ia dikafankan dengan jubah yang digunakannya dalam Perang Badar—perang kemenangan pertama untuk kaum Muslimin.

Pahlawan perkasa ini menghembuskan nafas yang terakhir pada tahun 55 H dengan meninggalkan kenangan indah dan nama yang harum. Ia dimakamkan di pemakaman Baqi’, makamnya para syuhada.

BERKONGSI REZEKI

SEMPENA RAMADAN & SYAWAL BERSAMA WARGA RUMAH AMAL LIMPAHAN KASIH 2019/1440H

RALK membuka peluang tajaan :

💎 – TARAWIH bersama anak-anak Rumah Amal Lipahan Kasih (RALK)


💎 – Sahur, Iftar dan Moreh setiap hari / sepanjang RAMADHAN

  • Barangan asas dapur basah & kering

💳- Bayaran bil utiliti dan sewa

🧕🏽- Baju program seragam dan Baju raya

💎- Bayaran zakat, fidyah, sedekah dan infaq

💎 – Persiapan Syawal baju raya,kasut raya,kuih raya dan duit raya untuk 125 pelajar perempuan dan 20 orang pelajar lelaki.

untuk pertanyaan lanjut hubungi


☎ Pejabat RALK 03-80618050 / 80523814
📱 Pn.Aiman 011-37037672
📱 Pn.Ilyani 018-9191658

Maybank – Limpahan Kasih Solution – 562777220661

sila klik disini

SURAT TAJAAN RUMAH AMAL LIMPAHAN KASIH

PROFILE KOMPLEKS PUSAT LATIHAN RUMAH AMAL LIMPAHAN KASIH

Sila klik disini

Profile Pusat Pendidikan Limpahan Kasih

SEJARAH ANAK YATIM DI ZAMAN RASULULLAH SAW

Dari Kitab “Durratun Nashihin (Mutiara Petuah Agama” diceritakan riwayat Anas bin Malik ra, Kisah yang terjadi di Madinah di zaman Rasulullah SAW,  pada suatu pagi di hari raya Aidil Fitri, Rasulullah SAW bersama keluarganya dan beberapa sahabatnya seperti biasanya mengunjungi rumah demi rumah untuk mendo’akan para muslimin dan muslimah, mukminin dan mukminah supaya mereka merasa bahagia di hari raya itu.

Alhamdulillah, semua dilihat merasa gembira dan bahagia di Hari Raya Aidil Fitri tersebut, terutama anak-anak. Mereka bermain sambil berlari-lari kesana kemari dengan mengenakan pakaian hari raya. Namun tiba-tiba Rasulullah saw melihat di satu sudut ada seorang gadis kecil sedang duduk melayan perasaan. Ia memakai pakaian yang compang-camping dan sepatu yang sangat daif.

Rasulullah saw lalu bergegas menghampirinya. Gadis kecil itu menyembunyikan wajahnya dengan kedua tangannya, gadis itu menangis tersedu-sedu.

Rasulullah saw kemudian meletakkan tangannya yang putih sewangi bunga mawar itu dengan penuh kasih sayang di atas kepala gadis kecil tersebut, lalu bertanya dengan suaranya yang lembut : “Wahai Anakku, mengapa kamu menangis ? Bukankah hari ini adalah hari raya?”

Gadis kecil itu sangat terkejut.Dia tidak berani mengangkat kepalanya dan melihat siapa yang bertanya, perlahan-lahan ia menjawab sambil bercerita : “Pada hari raya yang suci ini semua anak menginginkan agar dapat merayakannya bersama ibubapanya dengan berbahagia. Semua anak-anak bermain dengan riang gembira. Lalu aku teringat pada Ayahku, kerana itu aku menagis kesedihan. Ketika itu adalah  hari raya terakhir bersamanya. Ia membelikan aku sebuah gaun berwarna hijau dan kasut baru. Diwaktu itu aku sangat bahagia. Lalu suatu hari ayahku pergi berperang bersama Rasulullah saw membela Islam dan kemudian ia syahid. Sekarang ayahku  tidak ada lagi di sisiku. Aku telah menjadi seorang anak yatim. Jika aku tidak menangis untuknya, lalu untuk siapa lagi?”

Setelah Rasulullah saw mendengar cerita itu, seketika hatinya dipalut dgn kesedihan yang mendalam. Dengan penuh kasih sayang beliau membelai kepala gadis kecil itu sambil berkata: “Anakku, kesatlah air matamu… Angkatlah kepalamu dan dengarkan apa yang akan aku katakan kepadamu…. Apakah kamu ingin agar aku Rasulullah menjadi ayahmu?  … Dan apakah kamu juga ingin Ali menjadi bapa saudaramu?. Dan apakah kamu juga ingin agar Fatimah menjadi kakak perempuanmu?…. dan Hasan dan Husein menjadi adik-adikmu? dan Aisyah menjadi ibumu ?. Bagaimana pendapatmu tentang cadangan dariku ini?”

Apabila mendengar kata-kata itu, gadis kecil itu terus berhenti menangis. Ia memandang dengan penuh takjub orang yang berada tepat di hadapannya.

Masya Allah! Benar, ia adalah Rasulullah saw, orang tempat ia baru saja mencurahkan kesedihannya dan menumpahkan segala keperitan di hatinya. Gadis yatim kecil itu sangat tertarik pada tawaran Rasulullah saw, namun entah mengapa ia tidak bisa berkata sepatah katapun. Ia hanya dapat menganggukkan kepalanya perlahan sebagai tanda persetujuannya. Gadis kecil itu lalu bergandingan tangan dengan Rasulullah saw menuju ke rumah . Hatinya begitu diliputi kebahagiaan yang susah untuk digambarkan. Apabila mereka sampai di rumah, wajah dan kedua tangan gadis kecil itu lalu dibersihkan dan rambutnya disikat kemas. Semua diperlakukan dengan penuh kasih sayang. Gadis kecil itu lalu dipakaikan gaun yang indah dan diberikan makanan, juga sejumlah wang untuk hari raya. Lalu dibawa gadis itu keluar, agar dapat bermain bersama anak-anak lainnya. Anak-anak lain merasa cemburu pada gadis kecil dengan gaun yang indah dan wajah yang berseri-seri itu. Mereka merasa kehairanan, lalu bertanya :

“Gadis kecil, apa yang telah terjadi? Mengapa kamu dilihat sangat gembira?”

Sambil menunjukkan gaun baru dan wang sakunya gadis kecil itu menjawab :

“Akhirnya aku memiliki seorang ayah! Di dunia ini, tidak ada yang boleh menandinginya! Siapa yang tidak bahagia memiliki seorang ayah seperti Rasulullah? Aku juga kini memiliki seorang bapa saudara, namanya Ali yang hatinya begitu mulia. Juga seorang kakak perempuan, namanya Fatima Az`Zahra, . Ia menyikat rambutku dan mengenakanku gaun yang indah ini. Aku merasa sangat bahagia dan bangga memiliki adik adikku yang menyenangkan bernama Hasan dan Husein. Aku juga kini memiliki seorang ibu, namanya Aisyah, dan ingin rasanya aku memeluk seluruh dunia beserta isinya.”

Maka anak-anak yang sedang bermain dengannya sampai berkata: “ Seandainya ayah-ayah kita syahid pada jalan Allah ketika perang , tentu kita juga akan begitu.”

Syahdan tatkala Nabi saw meninggal dunia, anak kecil itu keluar seraya menaburkan debu ke atas kepalanya, meminta tolong sambil merintih: “Aku sekarang menjadi anak asing dan yatim lagi.” Maka oleh Ali Bin Abi Thalib kw (dalam riwayat lain ABu Bakar Ash Shiddiq ra) anak itu dipungutnya.

Sahabatku,

Apabila kita amati sejarah, memang misi terpenting dari Islam adalah membela, menyelamatkan, membebaskan, melindungi dan memuliakan kelompok dhuafa atau mustadh’afin (kaum lemah dan dilemahkan), dimana salah satu dari kelompok ini adalah anak yatim.

Perkataan Yatim disebut sebanyak 23 X dalam Al Qur’an sedangkan kata “pembesar” disebut hanya 10 kali, dan itupun dikaitkan dengan sifat-sifat yang negatif.

  • Berbuat baik kepada yatim adalah salah satu tanda orang yang benar imannya, yang takwa dan orang-orang yang baik. (QS. 2:177 dan QS 76:8)

 

  • Dan berikanlah kepada anak-anak yatim (yang sudah balig) harta mereka, jangan kamu menukar yang baik dengan yang buruk dan jangan kamu makan harta mereka bersama hartamu. Sesungguhnya tindakan-tindakan (menukar dan memakan) itu adalah dosa yang besar” (Q.S.4 (An Nisa): 2);

 

“GEMBIRAKANLAH HAMBA ALLAH NESCAYA ALLAH AKAN GEMBIRAKAN KITA”

Call Now
Directions